Powered By Blogger

Kamis, 06 Oktober 2016

Project A Episode 3



BAB 3

Hujan deras terus mengguyur pelataran rumah keluarga utama Cokrolangit. Atap tanah liat basah berwarna coklat, air mengalir teratur melalui talang. Sistem rumah joglo membuat pertahanan yang baik ketika menghadapi air hujan sederas ini. Sistem penghawaan alami atap joglo rumah menjadi solusi hawa dingin, karena dapat mengalirkan udara dengan baik sehingga suhu di dalam aula utama keluarga Cokrolangit tetap hangat. Aula utama berbentuk rumah joglo adat jawa yang semuanya murni terbuat dari kayu. Tidak ada sepotong besi pun yang menancap. Pemasangan kayu menggunakan sistem sambungan dan di paku dengan patek kayu. Semuanya alami selama tujuh generasi. Hari semakin sore, mendung yang tebal menuntup matahari menggelapkan langit. Hujan ini akan bertahan  untuk beberapa jam lagi.
Rumah pertemuan utama lumayan luas. Kursi ukir kayu berjajar saling berhadapan di sisi kanan dan kiri. Ada kursi satu kursi yang berukuran lebih besar menghadap pintu masuk. Hanya terdapat kursi, tidak ada meja. Sebuah ukiran kayu Bima, tokoh pewayangan jawa terpajang di dinding belakang kursi utama. Lambang itu adalah simbol dari keluarga ini. Simbol yang melambangkan kekuatan dan kebajikan.
Para tetua keluarga telah duduk di kursi masing-masing, ditemani istri masing masing berdiri di belakang mereka. Semuanya memakai baju batik dan sewek batik khas jawa. Pakain resmi untuk pertemuan sepenting ini. Di atas kepala bertengger blankon, dan sebilah keris tersarung di pinggang. Pada kursi utama seorang laki-laki yang tampak paling tua memakai batik berwarna kuning keemasan, duduk landai. Ada tiang tabung infus berdiri disampingnya. Dia adalah Romo Agung Cokrodimuko.
                Kang Mas, Perkara ini tidak bisa kita remehkan lagi. Ini demi kelanjutan garis keturunan mbah Cokrodimuko. Sekarang sudah sampai pada turunan mbah yang ketujuh” ucap lantang Tuan Singgih, saudara kedua tuan Agung.
                injeh, betul sekali itu Kang Mas. Usia Firman kini sudah tiga puluh dua tahun. Sementara itu, belum ada kabar kalau dia akan segera menikah” sahut Tuan Suryo, saudara sepupu tuan Agung. Situasi pertemuan semakin genting. Masing-masing kepala keluarga mendesak agar tuan agung segera mengawinkan anak pertamanya, Firman. Para istri juga tampak ingin ikut besuara namun mereka hanya bisa berbisik pada suaminya karena mereka tidak punya hak bicara.
Nyonya Fatimah berdiri dengan gelisah disamping tuan Agung, suaminya. Dia selalu melihat ponsel di tangan kananya. Menanti kenapa sampai sekarang firman masih belum datang.
                “jika saja Firman memang tidak memiliki keinginan untuk menikah, maka jabatan pemangku dan presdir perusahaan kita serahkan saja kepada Wahyu adiknya” usul Tuan Rois setelah mendapatkan bisikan dari istrinya.
                “jangan terburu-buru, Dek Rois. Wahyu masih terlalu muda untuk jadi pemangku apalagi presdir. Dia baru saja lulus SD. Sangat tidak masuk akal. Kita juga belum tahu alasan Firman langsung. Kita masih harus menunggu kedatangannya” ucap tuan Kamal meredam ketegangan.
                “mau sampai kapan kita harus menunggu. Dua tahun lalu dia mengatakan akan segera menikah, tapi buktinya sampai sekarang nol” desak tuan Suryo sambil melotot ke arah tuan Kamal.
                injeh, saya juga tahu itu. Tapi kita harus mempertimbangkan perasaan Firman. Jika dia belum ingin maka kita tidak bisa memaksannya begitu saja. Ingat pesan mbah meskipun keluarga ini terkenal dan terhormat keturunannya, jangan pernah ada paksaan dalam urusan pernikahan. Bahkam dalam keluarga ini haram adanya perjodohan. Semuanya bebas”
Tuan Singgih geram. Dia berdiri dengan amarah bersungut-sungut. Kursi yang ia duduki terjatuh kesamping. “ya, memang kita tidak mengenal paksaan. Tapi ini keadaanya lebih runyam. Kang Mas Agung Sudah terlalu tua dan dia juga mulai sakit-sakitan. Kondisi tubuhnya tidak memungkinkan lagi untuk memimpin keluarga sebesar ini”.
                “uhuk-uhuk” suasana tegang terpecah oleh suara batuk tuan Agung. Ia memaksakan diri untuk berbicara “wes wes, sudah cukup. Kalian jangan bertengkar. Segala persoalan selesaikan dengan kepala dingin. Jangan sampai pertemuan ini menjadi penyebab permusuhan dalam keluarga Cokro” ucap pelan tuan Agung, ia mencoba duduk tegak. Tubuhnya tergopoh, nyonya Fatimah membantunya “jangan maksakan diri, mas”
                “Aku ra popo, dek. Biar aku selesaikan masalah ini”
               “injeh Kang Mas. Benar kata mbak Yu Fatimah. Jangan paksakan diri. Biarkan aku yang menangani” ujar Tuan kamal.
Tuan Agung tidak mendengarkan nasihat istri dan adiknya. Tetap memaksakan diri untuk berbicara meski suaranya serak.
                “aku akan berbicara dengan Firman, aku berjanji dia akan segera menikah dalam waktu dekat”
                “kapan itu Kang Mas?” sahut tuan singgih.
Hening. Tanpa ada suara apapun. Tuan Agung menelan ludah. Dia tidak mempunyai jawaban pertanyaan itu. Istrinya juga gugup menatap suaminya yang tengah kebingungan.
                “dua tahun lalu, Kang Mas Juga mengatakan persis seperti ini” tambah tuan Wahyu. Situasi semakin tidak bisa dikendalikan.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki mendekat dari luar aula. Ketukan sepatu yang senada dengan detik waktu menambah efek dramatis. Dibukalah pintu utama aula. Berdiri sesosok laki-laki. “Aku akan menikah bulan ini!, Pas dengan hari ulang tahunku, Huwahaaha”
Mendengar itu seisi ruangan melongo, pandangan mata mereka tertuju ke satu arah, Firman. Firman berjalan maju diantara para tetua keluarga. Berhenti didepan kedua orangtuanya. Tersenyum, membungkuk kemudian sungkem. Mencium tangan orangtuanya.
“Apa kau yakin anakku?” bisik Ibu Fatimah, semakin gelisah karena anaknya datang dengan membawa pernyataan berani itu.
“Ibu tidak usah cemas”
Firman bangkit, balik badan menghadap para tetua keluarga. “Nuwun sewu. Saya mohon ijin berbicara. Karena forum ini sedang membahas tentang kehidupan pribadi saya, sungguh tidak sopan. Tapi Saya berlapang dada karena ini memang demi kebaikan keluarga ini.”
Firman berpindah tepat ditengah-tengah ruangan. Para tetua menatapnya. Firman menarik nafas siap  deklamasi “Maafkan saya bila selama ini belum bisa memenuhi harapan paman-paman sekalian. Saya tahu adanya forum ini diakibatkan karena kelalaian saya. Saya sungguh egois. Namun kini saya sadar kalau kepentingan keluarga jauh lebih utama. Keluarga Cokrolangit terkenal dengan orang yang bertanggung jawab. Maka dari itu, saya akan memegang ucapan saya tadi. Tepat dua puluh hari dari sekarang saya akan menikah.”
Eksprei para tetua mulai mereda. Tuan Kamal yang sedari tadi cemas memikirkan pernyataan keponakannya kini lebih tenang karena tampaknya Firman bersungguh-sungguh. Namun, beberapa orang semakin jengkel.
                “Siapa calon istrimu?” bentak Tuan Suryo
                “minggu depan dia akan aku bawa kesini”
                “Apakah dia manusia?, atau pohon pinus yang selalu kau datangi setiap hari minggu itu?” sahut Tuan Singgih
                “apa maksudmu adek singgih, jaga ucapanmu” Tuan Kamal tidak terima. Firman tercengang. Diam tanpa kata. Badannya bergetar hebat. Keringat membasahi bulu kudunya. “Ba.. bagaimana anda bisa tahu?”
Tuan Singgih tersenyum sinis. Di wajahnya tertulis tanda kemenangan. “Tentu saja aku tahu. Pohon itu termasuk dalam wilayah proyek yang dulu pernah aku tangani. Waktu itu aku kira kau hanya jalan-jalan menikmati pemandangan, tapi aku mulai curiga ketika kau setiap minggu berbicara dengan pohon itu, padahal tidak ada seorang pun di dekatmu. Bahkan aku sempat berfikir kalau kau sudah gila.”
                “ucapanmu semakin ngawur” sela Tuan kamal yang geram.
                “Maaf jika omonganku ini tidak sopan. Tapi siapa yang tidak berfikir kalau seorang laki-laki yang berbicara dengan sebuah pohon pinus selama dua tahun adalah gila.”
Keadaan semakin gawat. Tuan Agung dan Ibu Fatimah terejut, mereka hanya termenung. Mata ibu Fatimah berkaca-kaca. Sedangkan Firman semakin goyah. Dadanya seakan tertusuk pisau tajam, sangat sakit.
Firman termenung, dia mengingat kejadian dua puluh tahun lalu, saat dia bertemu dengan gadis itu. Hari itu sangat membahagiakan baginya. Dia seakan menemukan bidadari dalam hatinya. Wajahnya gadis kecil yang cantik sederhana meluluhkan hatinya muncul kembali. Bayang-bayang ingatan mengimpuls otaknya. Suara gadis itu muncul “Pohon ini bisa berbicara denganmu. Katakanlah saja perasaanmu, pasti dia akan menjawabnya, dan jangan lupa baca mantranya”. Senyum merekah gadis dalam ingatan kembali seperti bintang jatuh. Penglihatannya menjadi kabur, tubuhnya beku seperti es, keringat dingin keluar. Tidak disangka ingatan itu akan muncul di saat seperti ini.
Ketika badan Firman mulai terhuyung tiba-tiba getaran ponsel disaku celana membuatnya sadar. Penglihatannya kembali. Bayangan-bayangan itu menghilang. Firman membuka pesan di ponselnya.
Tuan jangan lupa mandi, lalu makan malam.
Selalu jaga kesehatan. Dan besok jangan terlambat :D
Sekretaris Cindy *-*
                “Dasar kau tetap saja jadi kuda poni” gumam Firman.
Cindy memang rutin SMS ke Firman setiap sore. Tidak ada yang menyuruhnya. Awalnya Firman geli mendepatkan SMS itu, namun dia semakin terbiasa. Cindy juga pernah mengatakan kalau dia melakukannya untuk hanya untuk hiburan.
Seketika semangat Firman kembali berkobar “paman sekalian tunggu saja minggu depan. Tepat di aula ini aku akan membawanya.”
Pernyataan itu sekaligus menutup pertemuan. Semua orang beranjak pergi.
* * * * *
Pesan Terkirim. Cindy menaruh ponselnya di atas  meja.
“Hei kenapa senyum-senyum sendiri.?”
                “Eng.. enggak, siapa yang senyum!” elak Cindy setelah diserang pertanyaan mendadak.
                “Setiap kali mbak Cindy SMS jam segini pasti senyum-senyum, girang sendiri. Apa dari pacarmu si presdir gila itu?” celetuk Erna yang sedang tidur-tiduran di atas kasur.
                “Enggak Erna!. Aku cuma memperingatkan dia kalo besok jangan sampai telat. Lagian dia bukan pacarku dan dia tidak gila” sungut Cindy, wajahnya cemberut menyembunyikan rasa malunya.
                “Tuh kan, keluar sewotnya. Awas imutnya hilang. Aku tadi Cuma bercanda kok mbak”
                “Sana pergi. Bukannya kamu ada les di RT sebelah sore ini?” usir Erna sambil melemparkan bantal
Erna baru ingat kalau dia punya les matematika. Dia buru-buru mencomot tasnya dan lari keluar.
                “Payung.. payung mana kau payung” Erna kembali, rambutnya agak basah
                “Belakang pintu Erna...”
                “O iya!, aku berangkat, Assalamualaikum”
                “Waalaikumsalam.”
Namanya Erna, sepupu Cindy. Usianya dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa matematika. Dia mempunyai pekerjaan sambilan tentor les matematika anak SMP. Hari ini giliran les di RT sebelah. Cindy dan Erna tinggal sekamar di kos milik Cak Parno. Cindy Kos sudah lima tahun, tiga tahun pertama dia tinggal sendirian, lalu Erna datang. Sekamar berdua untuk menghemat biaya.
Kamar kos yang sederhana dengan luas empat kali enam meter, cukup luas untuk ditempati dua orang. Masih muat dengan beberapa perabotan seperti meja kerja, sebuah lemari besar dua pintu, penanak nasi, rak sepatu, dan kamar mandi dalam serta rak-rak buku tertempel di kanan kiri dinding untuk menghemat tempat. Sebuah komputer dan beberapa foto berada di atas meja kerja. Ada sebuah lampu baja yang setia menerangi Cindy menulis catatan harian.
[Di suatu saat hari senin]
‘Sore cantik imut dan nge-gemesin Cindy’. Setidaknya itu yang dikatakan orang sepuluh tahun yang lalu. Dan semua berubah dengan ‘hai perawan tua.’
Hari ini berjalan dengan lancar. Mulai pagi hingga sore tidak ada masalah yang serius, kecuali penyamaran gila tuan Firman. Tapi aku menikmatinya, ini menyenangkan. Aku seperti jadi spy rahasia yang sedang menjalankan misi berbahaya seperti di film-film.
Hari ini aku mendapatkan julukan baru dari tuan Firman ‘Kuda Poni’, aku tidak tahu ini sudah julukan yang keberapa setelah siput putih, keong, kura-kura dan yang lainnya lupa karena saking banyaknya. Tapi entah mengapa julukan yang satu ini tidak seperti biasanya, serasa julukan itu memberiku power.
Cindy menutup buku catatan bersampul abu-abunya. Menanggalkan kacamata diatasnya. Lalu berguling ke atas tempat tidur.
                “Sudah jam setengah enam, waktunya mandi” Cindy melihat ke arah jam dinding. Cindy bangun dari tempat tidur, lalu mandi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar