BAB
3
Hujan
deras terus mengguyur pelataran rumah keluarga utama Cokrolangit. Atap tanah
liat basah berwarna coklat, air mengalir teratur melalui talang. Sistem rumah
joglo membuat pertahanan yang baik ketika menghadapi air hujan sederas ini.
Sistem penghawaan alami atap joglo rumah menjadi solusi hawa dingin, karena
dapat mengalirkan udara dengan baik sehingga suhu di dalam aula utama keluarga
Cokrolangit tetap hangat. Aula utama berbentuk rumah joglo adat jawa yang
semuanya murni terbuat dari kayu. Tidak ada sepotong besi pun yang menancap.
Pemasangan kayu menggunakan sistem sambungan dan di paku dengan patek kayu.
Semuanya alami selama tujuh generasi. Hari semakin sore, mendung yang tebal
menuntup matahari menggelapkan langit. Hujan ini akan bertahan untuk beberapa jam lagi.
Rumah
pertemuan utama lumayan luas. Kursi ukir kayu berjajar saling berhadapan di
sisi kanan dan kiri. Ada kursi satu kursi yang berukuran lebih besar menghadap
pintu masuk. Hanya terdapat kursi, tidak ada meja. Sebuah ukiran kayu Bima,
tokoh pewayangan jawa terpajang di dinding belakang kursi utama. Lambang itu
adalah simbol dari keluarga ini. Simbol yang melambangkan kekuatan dan
kebajikan.
Para
tetua keluarga telah duduk di kursi masing-masing, ditemani istri masing masing
berdiri di belakang mereka. Semuanya memakai baju batik dan sewek batik khas jawa. Pakain resmi
untuk pertemuan sepenting ini. Di atas kepala bertengger blankon, dan sebilah
keris tersarung di pinggang. Pada kursi utama seorang laki-laki yang tampak
paling tua memakai batik berwarna kuning keemasan, duduk landai. Ada tiang
tabung infus berdiri disampingnya. Dia adalah Romo Agung Cokrodimuko.
“Kang Mas, Perkara ini tidak bisa kita remehkan lagi. Ini demi
kelanjutan garis keturunan mbah Cokrodimuko.
Sekarang sudah sampai pada turunan mbah yang
ketujuh” ucap lantang Tuan Singgih, saudara kedua tuan Agung.
“injeh, betul sekali itu Kang
Mas. Usia Firman kini sudah tiga puluh dua tahun. Sementara itu, belum ada
kabar kalau dia akan segera menikah” sahut Tuan Suryo, saudara sepupu tuan
Agung. Situasi pertemuan semakin genting. Masing-masing kepala keluarga
mendesak agar tuan agung segera mengawinkan anak pertamanya, Firman. Para istri
juga tampak ingin ikut besuara namun mereka hanya bisa berbisik pada suaminya
karena mereka tidak punya hak bicara.
Nyonya
Fatimah berdiri dengan gelisah disamping tuan Agung, suaminya. Dia selalu
melihat ponsel di tangan kananya. Menanti kenapa sampai sekarang firman masih
belum datang.
“jika saja Firman memang tidak
memiliki keinginan untuk menikah, maka jabatan pemangku dan presdir perusahaan
kita serahkan saja kepada Wahyu adiknya” usul Tuan Rois setelah mendapatkan
bisikan dari istrinya.
“jangan terburu-buru, Dek Rois. Wahyu masih terlalu muda untuk
jadi pemangku apalagi presdir. Dia baru saja lulus SD. Sangat tidak masuk akal.
Kita juga belum tahu alasan Firman langsung. Kita masih harus menunggu
kedatangannya” ucap tuan Kamal meredam ketegangan.
“mau sampai kapan kita harus
menunggu. Dua tahun lalu dia mengatakan akan segera menikah, tapi buktinya
sampai sekarang nol” desak tuan Suryo sambil melotot ke arah tuan Kamal.
“injeh, saya juga tahu itu. Tapi kita harus mempertimbangkan
perasaan Firman. Jika dia belum ingin maka kita tidak bisa memaksannya begitu
saja. Ingat pesan mbah meskipun
keluarga ini terkenal dan terhormat keturunannya, jangan pernah ada paksaan
dalam urusan pernikahan. Bahkam dalam keluarga ini haram adanya perjodohan.
Semuanya bebas”
Tuan
Singgih geram. Dia berdiri dengan amarah bersungut-sungut. Kursi yang ia duduki
terjatuh kesamping. “ya, memang kita tidak mengenal paksaan. Tapi ini keadaanya
lebih runyam. Kang Mas Agung Sudah
terlalu tua dan dia juga mulai sakit-sakitan. Kondisi tubuhnya tidak
memungkinkan lagi untuk memimpin keluarga sebesar ini”.
“uhuk-uhuk” suasana tegang
terpecah oleh suara batuk tuan Agung. Ia memaksakan diri untuk berbicara “wes wes, sudah cukup. Kalian jangan
bertengkar. Segala persoalan selesaikan dengan kepala dingin. Jangan sampai
pertemuan ini menjadi penyebab permusuhan dalam keluarga Cokro” ucap pelan tuan
Agung, ia mencoba duduk tegak. Tubuhnya tergopoh, nyonya Fatimah membantunya
“jangan maksakan diri, mas”
“Aku ra popo, dek. Biar aku selesaikan masalah ini”
“injeh Kang Mas. Benar kata mbak Yu
Fatimah. Jangan paksakan diri. Biarkan aku yang menangani” ujar Tuan kamal.
Tuan
Agung tidak mendengarkan nasihat istri dan adiknya. Tetap memaksakan diri untuk
berbicara meski suaranya serak.
“aku akan berbicara dengan
Firman, aku berjanji dia akan segera menikah dalam waktu dekat”
“kapan itu Kang Mas?” sahut tuan singgih.
Hening.
Tanpa ada suara apapun. Tuan Agung menelan ludah. Dia tidak mempunyai jawaban
pertanyaan itu. Istrinya juga gugup menatap suaminya yang tengah kebingungan.
“dua tahun lalu, Kang Mas Juga mengatakan persis seperti
ini” tambah tuan Wahyu. Situasi semakin tidak bisa dikendalikan.
Tiba-tiba
terdengar derap langkah kaki mendekat dari luar aula. Ketukan sepatu yang
senada dengan detik waktu menambah efek dramatis. Dibukalah pintu utama aula.
Berdiri sesosok laki-laki. “Aku akan menikah bulan ini!, Pas dengan hari ulang
tahunku, Huwahaaha”
Mendengar
itu seisi ruangan melongo, pandangan mata mereka tertuju ke satu arah, Firman.
Firman berjalan maju diantara para tetua keluarga. Berhenti didepan kedua
orangtuanya. Tersenyum, membungkuk kemudian sungkem.
Mencium tangan orangtuanya.
“Apa kau yakin anakku?” bisik Ibu Fatimah, semakin gelisah
karena anaknya datang dengan membawa pernyataan berani itu.
“Ibu tidak usah cemas”
Firman
bangkit, balik badan menghadap para tetua keluarga. “Nuwun sewu. Saya mohon ijin berbicara. Karena forum ini sedang
membahas tentang kehidupan pribadi saya, sungguh tidak sopan. Tapi Saya
berlapang dada karena ini memang demi kebaikan keluarga ini.”
Firman
berpindah tepat ditengah-tengah ruangan. Para tetua menatapnya. Firman menarik
nafas siap deklamasi “Maafkan saya bila
selama ini belum bisa memenuhi harapan paman-paman sekalian. Saya tahu adanya
forum ini diakibatkan karena kelalaian saya. Saya sungguh egois. Namun kini
saya sadar kalau kepentingan keluarga jauh lebih utama. Keluarga Cokrolangit
terkenal dengan orang yang bertanggung jawab. Maka dari itu, saya akan memegang
ucapan saya tadi. Tepat dua puluh hari dari sekarang saya akan menikah.”
Eksprei
para tetua mulai mereda. Tuan Kamal yang sedari tadi cemas memikirkan
pernyataan keponakannya kini lebih tenang karena tampaknya Firman bersungguh-sungguh.
Namun, beberapa orang semakin jengkel.
“Siapa calon istrimu?” bentak
Tuan Suryo
“minggu depan dia akan aku bawa
kesini”
“Apakah dia manusia?, atau pohon
pinus yang selalu kau datangi setiap hari minggu itu?” sahut Tuan Singgih
“apa maksudmu adek singgih, jaga
ucapanmu” Tuan Kamal tidak terima. Firman tercengang. Diam tanpa kata. Badannya
bergetar hebat. Keringat membasahi bulu kudunya. “Ba.. bagaimana anda bisa
tahu?”
Tuan
Singgih tersenyum sinis. Di wajahnya tertulis tanda kemenangan. “Tentu saja aku
tahu. Pohon itu termasuk dalam wilayah proyek yang dulu pernah aku tangani.
Waktu itu aku kira kau hanya jalan-jalan menikmati pemandangan, tapi aku mulai
curiga ketika kau setiap minggu berbicara dengan pohon itu, padahal tidak ada
seorang pun di dekatmu. Bahkan aku sempat berfikir kalau kau sudah gila.”
“ucapanmu semakin ngawur” sela
Tuan kamal yang geram.
“Maaf jika omonganku ini tidak
sopan. Tapi siapa yang tidak berfikir kalau seorang laki-laki yang berbicara
dengan sebuah pohon pinus selama dua tahun adalah gila.”
Keadaan
semakin gawat. Tuan Agung dan Ibu Fatimah terejut, mereka hanya termenung. Mata
ibu Fatimah berkaca-kaca. Sedangkan Firman semakin goyah. Dadanya seakan
tertusuk pisau tajam, sangat sakit.
Firman
termenung, dia mengingat kejadian dua puluh tahun lalu, saat dia bertemu dengan
gadis itu. Hari itu sangat membahagiakan baginya. Dia seakan menemukan bidadari
dalam hatinya. Wajahnya gadis kecil yang cantik sederhana meluluhkan hatinya
muncul kembali. Bayang-bayang ingatan mengimpuls otaknya. Suara gadis itu
muncul “Pohon ini bisa berbicara denganmu. Katakanlah saja perasaanmu, pasti
dia akan menjawabnya, dan jangan lupa baca mantranya”. Senyum merekah gadis
dalam ingatan kembali seperti bintang jatuh. Penglihatannya menjadi kabur,
tubuhnya beku seperti es, keringat dingin keluar. Tidak disangka ingatan itu
akan muncul di saat seperti ini.
Ketika
badan Firman mulai terhuyung tiba-tiba getaran ponsel disaku celana membuatnya
sadar. Penglihatannya kembali. Bayangan-bayangan itu menghilang. Firman membuka
pesan di ponselnya.
Tuan jangan lupa mandi, lalu makan malam.
Selalu jaga kesehatan. Dan besok jangan
terlambat :D
Sekretaris Cindy *-*
“Dasar kau tetap saja jadi kuda
poni” gumam Firman.
Cindy
memang rutin SMS ke Firman setiap sore. Tidak ada yang menyuruhnya. Awalnya
Firman geli mendepatkan SMS itu, namun dia semakin terbiasa. Cindy juga pernah
mengatakan kalau dia melakukannya untuk hanya untuk hiburan.
Seketika
semangat Firman kembali berkobar “paman sekalian tunggu saja minggu depan.
Tepat di aula ini aku akan membawanya.”
Pernyataan
itu sekaligus menutup pertemuan. Semua orang beranjak pergi.
* * * * *
Pesan Terkirim. Cindy menaruh ponselnya
di atas meja.
“Hei kenapa senyum-senyum sendiri.?”
“Eng..
enggak, siapa yang senyum!” elak Cindy setelah diserang pertanyaan mendadak.
“Setiap kali mbak Cindy SMS jam
segini pasti senyum-senyum, girang sendiri. Apa dari pacarmu si presdir gila
itu?” celetuk Erna yang sedang tidur-tiduran di atas kasur.
“Enggak Erna!. Aku cuma
memperingatkan dia kalo besok jangan sampai telat. Lagian dia bukan pacarku dan
dia tidak gila” sungut Cindy, wajahnya cemberut menyembunyikan rasa malunya.
“Tuh kan, keluar sewotnya. Awas
imutnya hilang. Aku tadi Cuma bercanda kok mbak”
“Sana pergi. Bukannya kamu ada
les di RT sebelah sore ini?” usir Erna sambil melemparkan bantal
Erna
baru ingat kalau dia punya les matematika. Dia buru-buru mencomot tasnya dan
lari keluar.
“Payung.. payung mana kau
payung” Erna kembali, rambutnya agak basah
“Belakang pintu Erna...”
“O iya!, aku berangkat,
Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam.”
Namanya
Erna, sepupu Cindy. Usianya dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa matematika.
Dia mempunyai pekerjaan sambilan tentor les matematika anak SMP. Hari ini
giliran les di RT sebelah. Cindy dan Erna tinggal sekamar di kos milik Cak
Parno. Cindy Kos sudah lima tahun, tiga tahun pertama dia tinggal sendirian,
lalu Erna datang. Sekamar berdua untuk menghemat biaya.
Kamar
kos yang sederhana dengan luas empat kali enam meter, cukup luas untuk
ditempati dua orang. Masih muat dengan beberapa perabotan seperti meja kerja,
sebuah lemari besar dua pintu, penanak nasi, rak sepatu, dan kamar mandi dalam
serta rak-rak buku tertempel di kanan kiri dinding untuk menghemat tempat.
Sebuah komputer dan beberapa foto berada di atas meja kerja. Ada sebuah lampu
baja yang setia menerangi Cindy menulis catatan harian.
[Di suatu saat hari senin]
‘Sore cantik imut dan nge-gemesin Cindy’.
Setidaknya itu yang dikatakan orang sepuluh tahun yang lalu. Dan semua berubah
dengan ‘hai perawan tua.’
Hari ini berjalan dengan lancar. Mulai pagi
hingga sore tidak ada masalah yang serius, kecuali penyamaran gila tuan Firman.
Tapi aku menikmatinya, ini menyenangkan. Aku seperti jadi spy rahasia yang
sedang menjalankan misi berbahaya seperti di film-film.
Hari ini aku mendapatkan julukan baru dari
tuan Firman ‘Kuda Poni’, aku tidak tahu ini sudah julukan yang keberapa setelah
siput putih, keong, kura-kura dan yang lainnya lupa karena saking banyaknya.
Tapi entah mengapa julukan yang satu ini tidak seperti biasanya, serasa julukan
itu memberiku power.
Cindy
menutup buku catatan bersampul abu-abunya. Menanggalkan kacamata diatasnya.
Lalu berguling ke atas tempat tidur.
“Sudah jam setengah enam,
waktunya mandi” Cindy melihat ke arah jam dinding. Cindy bangun dari tempat
tidur, lalu mandi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar