Powered By Blogger

Kamis, 06 Oktober 2016

Project A



BAB 1

POHON ANGIN

Matahari tropis berkobar di tangah bentangan cakrawala. Melayang sendirian di langit yang biru. Tidak ada yang berani mendekatinya, tidak ada satu gumpulan awan pun yang menghalangi sinarnya hari ini. Udara terik lembab berhembus pertanda waktunya pergantian musim. Pepohonan mulai menumbuhkan daunnya. Mungkin ini disebut musim semi bila berada di daerah yang memiliki empat musim. Sinarnya yang terang sepertinya hanya sedikit yang bisa masuk kedalam hutan pinus yang membentang luas di bawahnya. Hutan yang sangat lebat, berdiri tegak pohon-pohon besar menjulang tinggi. Daunnya yang lebat menangkis sinar matahari seperti payung raksasa, meneduhkan seorang bocah yang tengah duduk dibawahnya. Dia sedang duduk sambil mengamati rumput indah yang baru tumbuh beberapa hari lalu.
“aaaahhhh...” tiba-tiba terdengar suara teriakan keras
Suara itu terdengar seperti seorang gadis kecil yang tengah berteriak tidak jauh dari tepian hutan pinus ini. Suaranya terdengar cempreng namun terdengar cukup keras.
“suara apa tadi?” tanya seorang bocah kepada orang dewasa disampingnya. Orang dewasa itu menggeleng tidak tahu. mendengar teriakan itu dengan jelas, bocah itu kemuadian bangkit dari duduknya, berdiri menghadap ke arah datangnya suara.
Ia mulai melangkah “mau kemana anda, tuan muda?” tanya orang dewasa yang ada di sampingnya, dilihat dari penampilannya sepertinya dia adalah pengawal bocah itu.
Tanpa menghiraukan pertanyaan tersebut bocah itu langsung menyingsing lengan jasnya, mengangkat celananya sedikit ke pinggang  dan berlari menuju ke dalam semak-semak, dia lari dengan cepat. Cara berlarinya cukup baik, tampak dia sepertinya sudah sering berlari. Reaksi bocah itu membuat pengawalnya merasa khawatir. Dia mencoba mencegah tuannya.
                “aku akan segera kembali. Terus saja pantau lokasiku dengan GPS. Aku akan segera kembali, tidak lama” teriak bocah itu sambil berlari dengan sedikit menoleh kebelakang, melihat pengawalnya yang tampak gelisah.
Tidak lama berlari bocah itu melihat cahaya dari balik pepohonan pinus yang berjajar rapi bagai tiang di depannya. Itu adalah cahaya yang menandakan tepi dari hutan lebat ini. Sinar matahari yang terik membuat pandangan di depan sana tidak begitu jelas, terlihat silau karena masih ada embun yang bertebaran.
Bocah itu berhasil keluar dari dalam hutan. Tidak disangka ternyata tepian dari hutan ini adalah jurang. jurang yang sangat dalam. Bocah itu langsung menghentikan langkah kakinya. Kaki kanannya yang berada di depan langsung dibelokkan dan ditancapkan ke tanah. Kakinya yang menancap ke tanah membuat debu disekitarnya langsung bertebaran. Dengan nafas yang terengah-engah dia melihat ke sekitar. Padanganya sedikit kabur. Lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam sambil merasakan angin sejuk yang sedang berhembus, menyingkap rambutnya yang hitam lurus.
                “darimana asal suara tadi?”tanya dalam hati
Tidak ada apapun, tidak sesuatu yang aneh. Ia makin kebingungan. Sudah lima menit lamanya dia hanya berdiri dan memandang ke kiri dan ke kanan. sambil mengumpulkan keberanian, bocah itu mencoba mendekat ke tepian jurang. Dengan hati-hati menjulurkan kaki kirinya ke belakang dan kaki kanannya mantap di depan, dengan sedikit takut. Dia menelusur pandangannya ke bawah jurang, mungkin saja suara itu adalah suara orang  yang jatuh ke bawah.
Jurang itu tampak sangat terjal. Terdiri dari bebatuan yang kasar dan gersang. dalamnya sekitar dua puluh meter. Bagian bawahnya ada banyak batu besar. Tampak sedikit gelap karena sinar matahari terhalang pohon pinus yang ada bawah sana. Kalaupun ada orang yang jatuh pasti nyawanya tidak akan selamat.
                “sepertinya tadi hanya halusinasiku saja” bocah itu mencoba meyakinkan dirinya.
Bebrapa detik kemudian Handphone yang ada di saku celananya bergetar. Dia mengambil hanphonenya. sebuah pesan masuk. Rupanya pengawalnya tadi mengirim pesan agar dia segera kembali.
Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memasukkan hanphonenya kemnali ke dalam saku celananya. Ia menelan ludah agak kehausan, mengusap keringat yang ada di dahinya, lalu melangkah kembali ke arah dia datang tadi.
                “aaahhh...” tiba tiba terdengar suara itu lagi.
Suara itu datang dari sebuah pohon besar yang berapa di ujung tebing. Tanpa pikir panjang bocah itu langsung memutar badannya lalu berlari. Sepatu fantofelnya mengambatnya berlari, begitu pula jas hitamnya yang terasa pengap bila digunakan berlari. Tapi ia tidak menghiraukan itu.
Tidak lama dia sampai tepat dibawah pohon besar itu. Mendadak dia terkejut bukan main. Ia membeku  seketika, tidak bergerak. Matanya melotot ketakutan, kakinya bergetar, nafasnya tersendat. Sesosok bayangan putih tampak di bawah pohon tengah berdiri tegap didepan matanya. Suasana mendadak mencekam.
                “ha.ha.. ku..kun kuntilanak!” teriaknya serak lemas tidak berdaya.
Bocah itu jatuh lemas ke belekang. Ia pingsan. Sepatunya terlepas dari kakinya. Jasnya kotor terkena debu gersang tebing itu.
* * * *
                “hei.. hei.. bangun.. bangun.., jangan mati..” suara lirih terdengar telinga bocah itu. Ia juga mendengar suara tangisan.
Ia merasa tubuhnya sedang ada yang mengguncang. Tubuhnya masih terasa lemas. Masih saja terdengar suara lirih yang membangunkannya, ia membuka kedia matanya dengan perlahan. Matanya sedikit berkedip ketika ada setetes air jatuh di wajahnya.  Sinar matahari membuatnya kesulitan melihat.
                “hei kau sudah bagun? Kau tidak apa apa?”ucap seorang gadis sambil menyapu air matanya.
Kedua mata bocah itu sekarang sudah terbuka dengan lebar. Dia mengucek kedua bola matanya. ia menggelengkan kepalanya. Kepalanya masih teras pusing, benturan saat terjatuh tadi masih meninggalkan efek.
                “bagaimana.. kau tidak apa apa?” seperti suara seorang gadis kecil, suaranya sedikit kikuk dan malu-malu namun terdengar ramah dan lembut.
Seketika bocah itu tersentak berdiri,ia terkejut dan melompat kebelakang dengan posisi kuda-kuda. Tubuhnya bergetar, pakaiannya yang berwarna hitam semakin menambah suasana gelap di wajahnya.
                “siapa kau? Dimana aku?” teriaknya keras
                “ha...” gadis itu langsung menangis. Dia terduduk di bawah pohon
Bocah itu yang tadinya merasa tegang seketika berubah. Ia keheranan saat mendengar suara tangisan seorang gadis kecil yang sedang duduk di depannya. Dengan sedikit ragu-ragu bocah itu mendekat. Langkah kakinya pelan meninggalkan jejak kaki debu di bawahnya.
                “hei.. kenapa kau menangis, apa kau anak cengeng?” tanya bocah itu, ia memberanikan diri bersuara. Apakah gadis ini yang tadi dilihatnya, pertanyaan itu terlintas. Dia terus mendekat perlahan.
                “habis, aku kira kamu tadi sudah mati” suara gadis itu yang terisak, namun tangisannya sudah berhenti. Dia mengusap matanya, mengelap ingus dari hidungnya, lalu mengangkat kepala mencoba memandang bocah yang ada di depannya.
                “aku mati?, mustahil. Aku belum boleh mati, karena aku adalah keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak sombong, huwahaha..ha” tukasnya lantang lalu ia tertawa dengan keras, tertawanya cukup unik, seperti ketakutannya tadi tidak pernah terjadi. Sontak gadis itu ikut tertawa kecil. Ia senang melihat bocah di depannya baik baik saja. Apalagi mendengar ucapannya tadi yang menurutnya sangat lucu.
Melihat gadis itu yang sudah tidak menangis lagi, bocah itu merasa lebih tenang. Dia  berdiri meluruskan kakinya, mengibaskan debu yang ada di celana dan jasnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah sisir rambut dari jasnya. Gadis itu juga sekarang duduk dengan lebih rileks. Ia mengusap wajahnya. Mata dan rambutnya hitam mempesona membuatnya terlihat sangat cantik. Bulu matanya yang lentik dan giginya yang mungil berjajar rapi menambah kecantikan gadis itu. Melihat dari tubuh fisiknya sepertinya umurnya masih sekitar sembilan tahun.
Angin sepoi-sepoi yang sejuk manghembus, menerbangkan dedaunan pepohonan yang tidak kuat bertengger pada rantingnya. Cahaya terik matahari tidak terlalu berpengaruh dengan suhu udara. Sekarang adalah musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Udara mulai terasa lembab dan segar. Burung-burung berkicau riang diantara pepohonan hutan pinus yang lebat. Rerumputan juga  mulai bersemi menghiasi tanah yang awalnya kering di musim kemarau. Garis edar matahari sudah sedikit bergeser ke selatan garis katulistiwa. Di Indonesia perubahan ini sangat jelas terlihat mengingat lokasinya yang terbelah oleh gari katulistiwa. Hanya dua musim yang berlangsung selama satu tahun, yaitu musim kemarau dan musim penghujan dan tepat saat inilah diujung musim kemarau, sekitar bulan oktober.
                “apakah kau tahu asal suara terikan tadi?” tanya bocah itu
                “apakah suaranya seperti ini, aaahhh....” jawab gadis itu, ia langsung mempraktekkan teriakan tadi yang ternyata dialah yang melakukannya.
Suaranya sangat keras, bagaimana bisa gadis kecil seperti dia mempunnyai suara sekeras itu.
                “oh, ternyata itu tadi ulahmu. Aku kaget dan langsung berlari kemari, suaramu keras juga, tapi sayang cempreng” cibir bocah itu
Mendengar ucapan yang tidak nyaman itu, mata gadis itu kembali berkaca-kaca, alis matanya kembali mengkerut. Bibirnya manyun, sepertinya akan ada tangisan susulan.
                “eh, merdu kok suaranya, maaf lidahku tadi keseleo” hibur bocah itu segera karena menyadari ucapannya tadi akan membuat gadis itu kembali menangis. Jelas sekali kalau itu bohong, Sambil mendongak ke atas dan melirik ke gadis itu, dia masih penasaran kenapa gadis di depannya tadi berteriak.
Seakan gadis itu tahu isi hati bocah itu dia berkata “aku tadi sedang latihan vokal. Aku latihan berteriak di sini setiap hari minggu. Aku merasa nyaman kalau latihan disini,  karena aku berpikir kalau aku teriak di hutan begini tidak ada yang terganggu oleh suaraku. Hanya pohon besar ini lah yang selama ini yang selalu mendengarkan suaraku dengan baik. Pohon ini tidak pernah jahat kepadaku, ia hanya diam dan tenang, tidak peduli apapun yang aku lakukan. berbeda dengan orang-orang yang selalu meghinaku ketika aku mulai bernyanyi” kemudian gadis itu menatap wajah bocah di depannya, sambil tersenyum indah “dan kamulah orang pertama yang mengatakan bahwa suaraku ini merdu, aku senang sekali”
Bocah itu terpanah melihat ketulusan ucapan gadis itu. Suaranya halus sangat menyejukkan hati. Meskipun kenyataannya suaranya tidak enak. Tapi senyum itu terlihat begitu tulus.
Secara bersamaan angin berhembus sejuk. Udara sekitar terasa sangat nyaman. Bocah itu masih terpanah mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Kepalanya yang tadinya pusing sekarang sudak tidak lagi. Apakan ini obat, jelas bukan.
                “wow.. suatu kehormatan bisa menjadi yang pertama, haaha” puji bocah itu dengan tertawa keras
Gadis itu akhirnya tampak begitu riang, senyumnya semakin manis dan memukau. Wajahnya imut, kulitnya putih bersih, sungguh sempurna.
                “apakah kamu mau jadi penyanyi?” tanya bocah itu, ia melihat kedua bola mata gadis itu.
                “tidak, ini hanya sekedar hobi. Aku melakukannya karena menyenangkan. Aku tidak mau jadi penyanyi. Karena aku pikir jadi penyanyi akan sangat menyibukkan, jika begitu aku tidak akan bisa lagi bermain dan jalan-jalan” ujar gadis itu. Pemikiran gadiskecil itu sungguh sederhana, membuat bocah disampingnya tersenyum.
                “sepertinya kamu anak yang baik” ucap gadis itu pelan. Tampak gadis itu pemalu.
                “tentunya, karena aku adalah keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak sombong, huwahaha ha”. Ujarnya dengan tertawa keras. Gadis itu tersenyum lagi.
Kini kedua anak itu tengah duduk berdampingan di bawah pohon besar, memandangi pemandangan indah cakrawala yang ada di depannya. Tempat mereka duduk terlindung dari sengatan sinar matahari. Pohon pinus yang besar menjulan tinggi menancap di belakang mereka, diameternya sama dengan bila mereka berdua memeluk pohon dan kedua tangan mereka bersentuhan. Serat-serat  pohonnya sangat halus, sehingga membuat nyaman untuk dipandang. Daunnya yang lebat membentuk sebuah payung alami dengan ukuran raksasa. Terlihat beberapa burung melompat dari ranting ke ranting.
                “apa kamu selalu datang kesini sendirian?” tanya bocah itu. Dia melepas jas hitamnya. Di dalamnya dia memakai kemeja berwarna putih dengan garis-garis biru. Dasi kupu-kupunya terlihat imut, warnanya hitam. Sangat serasi.
                “tidak, biasanya aku datang kemari dengan ayahku. Setiap minggu kami menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan di hutan, dan kita berhenti di pohon ini untuk beristirahat sebentar. Menggelar tikar dan makan siang bersama. Mungkin itu yang biasa orang di dalam televisi sebut piknik, aku sangat senang. Namun sayang, hari ini ayahku sedang sibuk memanen jagung di sawah”  jelas gadis itu dengan nada yang santai.
               “kamu sendiri kenapa bisa ada disini?, sepertinya kau datang dari jauh. Pakainmu, sepertinya kamu anak orang kaya. Kenapa bisa datang ke tempat terencil seperti ini?” gadis itu balik bertanya. Dia sudah merasa akrab meski baru beberapa saat lalu bertemu.
Bocah itu menghela napas, relaks “kalau soal kaya itu benar sekali, karena aku adalah keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak sombong, huwahaha..ha” dia diam sejenak. “aku kesini bersama robongan perusahaan ayahku. Tidak jauh dari sini, sebelah selatan hutan ini kami sedang melakukan kegiatan reboisasi. Kegiatan ini sebagai bentuk kalau perusahaan kami sangat peduli dengan alam. Karena jika hutan semakin gundul maka bumi semakin panas, polusi semakin banyak, dan di masa depan bumi tidak bisa dihuni lagi. Itulah yang dikatakan ayahku. Setelah acara selesai aku ijin ayahku sebentar untuk melihat-lihat rumput segar yang mulai tumbuh di hutan. Aku bersam dengan seorang pengawalku yang sekarang sedang menungguku tidak jauh dari sini”.
                “sepertinya kamu tidak hanya kaya, tapi pintar. Ohya, baik hati” puji gadis kecil itu.
                “sudah pasti, karena aku..” belum selesai bocah itu bicara
                “STOP” sela gadis itu. Dia menutup bibir bocah di sampingnya. “aku sudah tahu kelanjutannya” gadis itu tersenyum manis. Merasakan tangan lembut berada di bibirnya membuat wajah bocah itu memerah, ia malu.
                “eh, maafkan aku” gadis itu melepaskan tangannya dengan cepat.
Kini mereka semakin akrab, tidak perduli kalau mereka baru bertemu. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari tentang sekolah, rumah, hobi dll. Anehnya satu hal yang terpenting lupa mereka bahas. Hal itu adalah nama mereka. Mereka seenaknya saja bicara. Tidak saling mengenal nama satu sama lain. Mungkin dengan tidak mengetahui nama mereka jadi bisa lebih blak-blakan, tidak khawatir dengan akibat setiap apa yang mereka ucapkan.
Bocah itu sedikit mencuri pandang ke arah gadis itu. Dia menyimak dengan tenang. Ketika gadis itu menoleh ke arahnya, ia langung membuang mukanya ke arah langit. Seiring mereka berbicara matahari terus bergerak turun ke horizon barat. Langit berubah warna secara perlahan menjadi langit senja. Bocah itu lupa kalau tadi hanya pamit untuk pergi sebentar. Sampai sebuah getaran di saku celana menyadarkannya.
                “ini kan alarm mandi sore” ucapnya sambil membuka handphone. Selesai itu bocah itu mendengar sebuah kalimat aneh. Ia menoleh ke arah gadis di sampingnya
                “Oca abu aca a. Oca abu aca a. Oca abu aca a” gadis itu besuara. Ia memejamkan mata menarik nafas secara perlahan membuat bocah itu keheranan.
                “apa yang kau ucapkan? Apakah itu sebuah mantra? Mustahil, tidak masuk akal” si bocah mencibir
                “cobalah mengikuti ucapanku, pejamkan matamu. Itu akan membuat pikiranmu tenang. Ayah mengajariku ini. Lakukan saja ketika kamu merasa penat, ini oleh-olehku” pinta gadis kecil itu. Ia melanjutkan mantra anehnya. Ia memejamkan kedua matanya, angin menerpa wajahnya. Rambutnya terjurai indah. “ Dan asal kamu tahu, Pohon ini bisa berbicara denganmu. Katakanlah saja perasaanmu, pasti dia akan menjawabnya, dan jangan lupa baca mantranya”
Bocah itu hanya diam, cuek tidak perduli. Ia masih berpikir bahwa itu konyol, tidak masuk akal. Tapi lama kelamaan ia mengikutinya
                “Ooac acuu aba” ucapnya sedikit tersendat
                “Oca abu aca a” gadis itu meneruskan mantranya. Dia tersenyum saat melirik bocah disampingnya menirukan mantranya. Mereka berdua pun serempak merafalkan mantra itu.
                “ini sudah jam empat sore. Aku harus segera kembali ke tempatku datang tadi” Terang bocah itu. Dia mengambil handphone di sakunya. Pesan dan panggilan tidak terjawab terpampang di layar. Pasti pengawalnya tadi tidak henti-hentinya mencemaskan tuannya. Jasnya yang tampak lusuh dikibaskannya membuang debu yang menempel lalu mengenakannya. Kemudian dia berdiri tegap. Si gadis mengikutinya berdiri. Baju putihnya putih bersih. Hanya ada sedikit debu di bagian dengkulnyna. Mungkin bekas ia berlutut untuk membangunkan bocah tadi.
                “baiklah, kita berpisah sekarang. Apa kau mau aaku antarkan pulang?” ucap bocah itu
                “tidak perlu, terima kasih sudah menjadi temanku. Hari ini aku senang sekali”
Mereka berpisah, berjalan menuju arah yang saling berlawanan. Tepat pohon pinus besar tadi berada di tengah-tengah jarak mereka berdua. Mereka berjalan lurus tanpa ada yang menoleh. Sinar mentari senja menambah efek haru perpisahan mereka
Baru sepuluh detik berjalan si bocah itu menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badan menoleh ke arah gadis itu.
                “ohya. Minggu depan kita bertemu lagi di...” belum sempat bocah itu melanjutkan kalimatnya, “apa.. kemana dia? Hilang?” bisik dia dalam hati. Pandangannya menelisik ke seluruh tempat. tapi
Gadis tadi menghilang tanpa jejak.
sejak hari itu mereka tidak pernah bertemu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar