BAB
1
POHON
ANGIN
Matahari
tropis berkobar di tangah bentangan cakrawala. Melayang sendirian di langit
yang biru. Tidak ada yang berani mendekatinya, tidak ada satu gumpulan awan pun
yang menghalangi sinarnya hari ini. Udara terik lembab berhembus pertanda
waktunya pergantian musim. Pepohonan mulai menumbuhkan daunnya. Mungkin ini
disebut musim semi bila berada di daerah yang memiliki empat musim. Sinarnya
yang terang sepertinya hanya sedikit yang bisa masuk kedalam hutan pinus yang
membentang luas di bawahnya. Hutan yang sangat lebat, berdiri tegak pohon-pohon
besar menjulang tinggi. Daunnya yang lebat menangkis sinar matahari seperti
payung raksasa, meneduhkan seorang bocah yang tengah duduk dibawahnya. Dia
sedang duduk sambil mengamati rumput indah yang baru tumbuh beberapa hari lalu.
“aaaahhhh...” tiba-tiba terdengar suara teriakan keras
Suara
itu terdengar seperti seorang gadis kecil yang tengah berteriak tidak jauh dari
tepian hutan pinus ini. Suaranya terdengar cempreng namun terdengar cukup
keras.
“suara apa tadi?” tanya seorang bocah kepada orang dewasa
disampingnya. Orang dewasa itu menggeleng tidak tahu. mendengar teriakan itu
dengan jelas, bocah itu kemuadian bangkit dari duduknya, berdiri menghadap ke
arah datangnya suara.
Ia
mulai melangkah “mau kemana anda, tuan muda?” tanya orang dewasa yang ada di
sampingnya, dilihat dari penampilannya sepertinya dia adalah pengawal bocah
itu.
Tanpa
menghiraukan pertanyaan tersebut bocah itu langsung menyingsing lengan jasnya,
mengangkat celananya sedikit ke pinggang dan berlari menuju ke dalam semak-semak, dia
lari dengan cepat. Cara berlarinya cukup baik, tampak dia sepertinya sudah
sering berlari. Reaksi bocah itu membuat pengawalnya merasa khawatir. Dia
mencoba mencegah tuannya.
“aku akan segera kembali. Terus
saja pantau lokasiku dengan GPS. Aku
akan segera kembali, tidak lama” teriak bocah itu sambil berlari dengan sedikit
menoleh kebelakang, melihat pengawalnya yang tampak gelisah.
Tidak
lama berlari bocah itu melihat cahaya dari balik pepohonan pinus yang berjajar
rapi bagai tiang di depannya. Itu adalah cahaya yang menandakan tepi dari hutan
lebat ini. Sinar matahari yang terik membuat pandangan di depan sana tidak
begitu jelas, terlihat silau karena masih ada embun yang bertebaran.
Bocah
itu berhasil keluar dari dalam hutan. Tidak disangka ternyata tepian dari hutan
ini adalah jurang. jurang yang sangat dalam. Bocah itu langsung menghentikan langkah
kakinya. Kaki kanannya yang berada di depan langsung dibelokkan dan ditancapkan
ke tanah. Kakinya yang menancap ke tanah membuat debu disekitarnya langsung
bertebaran. Dengan nafas yang terengah-engah dia melihat ke sekitar. Padanganya
sedikit kabur. Lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam sambil merasakan angin
sejuk yang sedang berhembus, menyingkap rambutnya yang hitam lurus.
“darimana asal suara tadi?”tanya
dalam hati
Tidak
ada apapun, tidak sesuatu yang aneh. Ia makin kebingungan. Sudah lima menit
lamanya dia hanya berdiri dan memandang ke kiri dan ke kanan. sambil
mengumpulkan keberanian, bocah itu mencoba mendekat ke tepian jurang. Dengan
hati-hati menjulurkan kaki kirinya ke belakang dan kaki kanannya mantap di
depan, dengan sedikit takut. Dia menelusur pandangannya ke bawah jurang,
mungkin saja suara itu adalah suara orang
yang jatuh ke bawah.
Jurang
itu tampak sangat terjal. Terdiri dari bebatuan yang kasar dan gersang.
dalamnya sekitar dua puluh meter. Bagian bawahnya ada banyak batu besar. Tampak
sedikit gelap karena sinar matahari terhalang pohon pinus yang ada bawah sana.
Kalaupun ada orang yang jatuh pasti nyawanya tidak akan selamat.
“sepertinya tadi hanya
halusinasiku saja” bocah itu mencoba meyakinkan dirinya.
Bebrapa
detik kemudian Handphone yang ada di saku celananya bergetar. Dia mengambil
hanphonenya. sebuah pesan masuk. Rupanya pengawalnya tadi mengirim pesan agar
dia segera kembali.
Setelah
berpikir sejenak akhirnya dia memasukkan hanphonenya kemnali ke dalam saku
celananya. Ia menelan ludah agak kehausan, mengusap keringat yang ada di
dahinya, lalu melangkah kembali ke arah dia datang tadi.
“aaahhh...” tiba tiba terdengar
suara itu lagi.
Suara
itu datang dari sebuah pohon besar yang berapa di ujung tebing. Tanpa pikir
panjang bocah itu langsung memutar badannya lalu berlari. Sepatu fantofelnya
mengambatnya berlari, begitu pula jas hitamnya yang terasa pengap bila
digunakan berlari. Tapi ia tidak menghiraukan itu.
Tidak
lama dia sampai tepat dibawah pohon besar itu. Mendadak dia terkejut bukan
main. Ia membeku seketika, tidak
bergerak. Matanya melotot ketakutan, kakinya bergetar, nafasnya tersendat.
Sesosok bayangan putih tampak di bawah pohon tengah berdiri tegap didepan
matanya. Suasana mendadak mencekam.
“ha.ha.. ku..kun kuntilanak!”
teriaknya serak lemas tidak berdaya.
Bocah
itu jatuh lemas ke belekang. Ia pingsan. Sepatunya terlepas dari kakinya.
Jasnya kotor terkena debu gersang tebing itu.
* * * *
“hei.. hei.. bangun.. bangun..,
jangan mati..” suara lirih terdengar telinga bocah itu. Ia juga mendengar suara
tangisan.
Ia
merasa tubuhnya sedang ada yang mengguncang. Tubuhnya masih terasa lemas. Masih
saja terdengar suara lirih yang membangunkannya, ia membuka kedia matanya
dengan perlahan. Matanya sedikit berkedip ketika ada setetes air jatuh di
wajahnya. Sinar matahari membuatnya
kesulitan melihat.
“hei kau sudah bagun? Kau tidak
apa apa?”ucap seorang gadis sambil menyapu air matanya.
Kedua
mata bocah itu sekarang sudah terbuka dengan lebar. Dia mengucek kedua bola matanya.
ia menggelengkan kepalanya. Kepalanya masih teras pusing, benturan saat
terjatuh tadi masih meninggalkan efek.
“bagaimana.. kau tidak apa apa?”
seperti suara seorang gadis kecil, suaranya sedikit kikuk dan malu-malu namun
terdengar ramah dan lembut.
Seketika
bocah itu tersentak berdiri,ia terkejut dan melompat kebelakang dengan posisi
kuda-kuda. Tubuhnya bergetar, pakaiannya yang berwarna hitam semakin menambah
suasana gelap di wajahnya.
“siapa kau? Dimana aku?”
teriaknya keras
“ha...” gadis itu langsung
menangis. Dia terduduk di bawah pohon
Bocah
itu yang tadinya merasa tegang seketika berubah. Ia keheranan saat mendengar
suara tangisan seorang gadis kecil yang sedang duduk di depannya. Dengan
sedikit ragu-ragu bocah itu mendekat. Langkah kakinya pelan meninggalkan jejak
kaki debu di bawahnya.
“hei.. kenapa kau menangis, apa
kau anak cengeng?” tanya bocah itu, ia memberanikan diri bersuara. Apakah gadis
ini yang tadi dilihatnya, pertanyaan itu terlintas. Dia terus mendekat
perlahan.
“habis, aku kira kamu tadi sudah
mati” suara gadis itu yang terisak, namun tangisannya sudah berhenti. Dia
mengusap matanya, mengelap ingus dari hidungnya, lalu mengangkat kepala mencoba
memandang bocah yang ada di depannya.
“aku mati?, mustahil. Aku belum
boleh mati, karena aku adalah keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko.
Aku baik hati dan tidak sombong, huwahaha..ha” tukasnya lantang lalu ia tertawa
dengan keras, tertawanya cukup unik, seperti ketakutannya tadi tidak pernah
terjadi. Sontak gadis itu ikut tertawa kecil. Ia senang melihat bocah di
depannya baik baik saja. Apalagi mendengar ucapannya tadi yang menurutnya sangat
lucu.
Melihat
gadis itu yang sudah tidak menangis lagi, bocah itu merasa lebih tenang.
Dia berdiri meluruskan kakinya,
mengibaskan debu yang ada di celana dan jasnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah
sisir rambut dari jasnya. Gadis itu juga sekarang duduk dengan lebih rileks. Ia
mengusap wajahnya. Mata dan rambutnya hitam mempesona membuatnya terlihat
sangat cantik. Bulu matanya yang lentik dan giginya yang mungil berjajar rapi
menambah kecantikan gadis itu. Melihat dari tubuh fisiknya sepertinya umurnya
masih sekitar sembilan tahun.
Angin
sepoi-sepoi yang sejuk manghembus, menerbangkan dedaunan pepohonan yang tidak
kuat bertengger pada rantingnya. Cahaya terik matahari tidak terlalu
berpengaruh dengan suhu udara. Sekarang adalah musim pancaroba, peralihan dari
musim kemarau ke musim penghujan. Udara mulai terasa lembab dan segar.
Burung-burung berkicau riang diantara pepohonan hutan pinus yang lebat.
Rerumputan juga mulai bersemi menghiasi
tanah yang awalnya kering di musim kemarau. Garis edar matahari sudah sedikit
bergeser ke selatan garis katulistiwa. Di Indonesia perubahan ini sangat jelas terlihat
mengingat lokasinya yang terbelah oleh gari katulistiwa. Hanya dua musim yang
berlangsung selama satu tahun, yaitu musim kemarau dan musim penghujan dan
tepat saat inilah diujung musim kemarau, sekitar bulan oktober.
“apakah kau tahu asal suara
terikan tadi?” tanya bocah itu
“apakah suaranya seperti ini,
aaahhh....” jawab gadis itu, ia langsung mempraktekkan teriakan tadi yang
ternyata dialah yang melakukannya.
Suaranya
sangat keras, bagaimana bisa gadis kecil seperti dia mempunnyai suara sekeras
itu.
“oh, ternyata itu tadi ulahmu.
Aku kaget dan langsung berlari kemari, suaramu keras juga, tapi sayang
cempreng” cibir bocah itu
Mendengar
ucapan yang tidak nyaman itu, mata gadis itu kembali berkaca-kaca, alis matanya
kembali mengkerut. Bibirnya manyun, sepertinya akan ada tangisan susulan.
“eh, merdu kok suaranya, maaf
lidahku tadi keseleo” hibur bocah itu segera karena menyadari ucapannya tadi
akan membuat gadis itu kembali menangis. Jelas sekali kalau itu bohong, Sambil
mendongak ke atas dan melirik ke gadis itu, dia masih penasaran kenapa gadis di
depannya tadi berteriak.
Seakan
gadis itu tahu isi hati bocah itu dia berkata “aku tadi sedang latihan vokal.
Aku latihan berteriak di sini setiap hari minggu. Aku merasa nyaman kalau
latihan disini, karena aku berpikir
kalau aku teriak di hutan begini tidak ada yang terganggu oleh suaraku. Hanya
pohon besar ini lah yang selama ini yang selalu mendengarkan suaraku dengan
baik. Pohon ini tidak pernah jahat kepadaku, ia hanya diam dan tenang, tidak
peduli apapun yang aku lakukan. berbeda dengan orang-orang yang selalu
meghinaku ketika aku mulai bernyanyi” kemudian gadis itu menatap wajah bocah di
depannya, sambil tersenyum indah “dan kamulah orang pertama yang mengatakan
bahwa suaraku ini merdu, aku senang sekali”
Bocah
itu terpanah melihat ketulusan ucapan gadis itu. Suaranya halus sangat
menyejukkan hati. Meskipun kenyataannya suaranya tidak enak. Tapi senyum itu
terlihat begitu tulus.
Secara
bersamaan angin berhembus sejuk. Udara sekitar terasa sangat nyaman. Bocah itu
masih terpanah mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Kepalanya yang tadinya
pusing sekarang sudak tidak lagi. Apakan ini obat, jelas bukan.
“wow.. suatu kehormatan bisa
menjadi yang pertama, haaha” puji bocah itu dengan tertawa keras
Gadis
itu akhirnya tampak begitu riang, senyumnya semakin manis dan memukau. Wajahnya
imut, kulitnya putih bersih, sungguh sempurna.
“apakah kamu mau jadi penyanyi?”
tanya bocah itu, ia melihat kedua bola mata gadis itu.
“tidak, ini hanya sekedar hobi.
Aku melakukannya karena menyenangkan. Aku tidak mau jadi penyanyi. Karena aku
pikir jadi penyanyi akan sangat menyibukkan, jika begitu aku tidak akan bisa
lagi bermain dan jalan-jalan” ujar gadis itu. Pemikiran gadiskecil itu sungguh
sederhana, membuat bocah disampingnya tersenyum.
“sepertinya kamu anak yang baik”
ucap gadis itu pelan. Tampak gadis itu pemalu.
“tentunya, karena aku adalah
keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak
sombong, huwahaha ha”. Ujarnya dengan tertawa keras. Gadis itu tersenyum lagi.
Kini
kedua anak itu tengah duduk berdampingan di bawah pohon besar, memandangi
pemandangan indah cakrawala yang ada di depannya. Tempat mereka duduk terlindung
dari sengatan sinar matahari. Pohon pinus yang besar menjulan tinggi menancap
di belakang mereka, diameternya sama dengan bila mereka berdua memeluk pohon
dan kedua tangan mereka bersentuhan. Serat-serat pohonnya sangat halus, sehingga membuat
nyaman untuk dipandang. Daunnya yang lebat membentuk sebuah payung alami dengan
ukuran raksasa. Terlihat beberapa burung melompat dari ranting ke ranting.
“apa kamu selalu datang kesini
sendirian?” tanya bocah itu. Dia melepas jas hitamnya. Di dalamnya dia memakai
kemeja berwarna putih dengan garis-garis biru. Dasi kupu-kupunya terlihat imut,
warnanya hitam. Sangat serasi.
“tidak, biasanya aku datang
kemari dengan ayahku. Setiap minggu kami menghabiskan waktu berdua dengan
berjalan-jalan di hutan, dan kita berhenti di pohon ini untuk beristirahat
sebentar. Menggelar tikar dan makan siang bersama. Mungkin itu yang biasa orang
di dalam televisi sebut piknik, aku sangat senang. Namun sayang, hari ini
ayahku sedang sibuk memanen jagung di sawah”
jelas gadis itu dengan nada yang santai.
“kamu sendiri kenapa bisa ada
disini?, sepertinya kau datang dari jauh. Pakainmu, sepertinya kamu anak orang
kaya. Kenapa bisa datang ke tempat terencil seperti ini?” gadis itu balik
bertanya. Dia sudah merasa akrab meski baru beberapa saat lalu bertemu.
Bocah
itu menghela napas, relaks “kalau soal kaya itu benar sekali, karena aku adalah
keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak
sombong, huwahaha..ha” dia diam sejenak. “aku kesini bersama robongan
perusahaan ayahku. Tidak jauh dari sini, sebelah selatan hutan ini kami sedang
melakukan kegiatan reboisasi. Kegiatan ini sebagai bentuk kalau perusahaan kami
sangat peduli dengan alam. Karena jika hutan semakin gundul maka bumi semakin
panas, polusi semakin banyak, dan di masa depan bumi tidak bisa dihuni lagi.
Itulah yang dikatakan ayahku. Setelah acara selesai aku ijin ayahku sebentar
untuk melihat-lihat rumput segar yang mulai tumbuh di hutan. Aku bersam dengan
seorang pengawalku yang sekarang sedang menungguku tidak jauh dari sini”.
“sepertinya kamu tidak hanya
kaya, tapi pintar. Ohya, baik hati” puji gadis kecil itu.
“sudah pasti, karena aku..” belum
selesai bocah itu bicara
“STOP” sela gadis itu. Dia
menutup bibir bocah di sampingnya. “aku sudah tahu kelanjutannya” gadis itu
tersenyum manis. Merasakan tangan lembut berada di bibirnya membuat wajah bocah
itu memerah, ia malu.
“eh, maafkan aku” gadis itu melepaskan
tangannya dengan cepat.
Kini
mereka semakin akrab, tidak perduli kalau mereka baru bertemu. Mereka
membicarakan banyak hal. Mulai dari tentang sekolah, rumah, hobi dll. Anehnya
satu hal yang terpenting lupa mereka bahas. Hal itu adalah nama mereka. Mereka
seenaknya saja bicara. Tidak saling mengenal nama satu sama lain. Mungkin
dengan tidak mengetahui nama mereka jadi bisa lebih blak-blakan, tidak khawatir
dengan akibat setiap apa yang mereka ucapkan.
Bocah
itu sedikit mencuri pandang ke arah gadis itu. Dia menyimak dengan tenang.
Ketika gadis itu menoleh ke arahnya, ia langung membuang mukanya ke arah
langit. Seiring mereka berbicara matahari terus bergerak turun ke horizon
barat. Langit berubah warna secara perlahan menjadi langit senja. Bocah itu
lupa kalau tadi hanya pamit untuk pergi sebentar. Sampai sebuah getaran di saku
celana menyadarkannya.
“ini kan alarm mandi sore”
ucapnya sambil membuka handphone. Selesai itu bocah itu mendengar sebuah
kalimat aneh. Ia menoleh ke arah gadis di sampingnya
“Oca
abu aca a. Oca abu aca a. Oca abu aca a” gadis itu besuara. Ia memejamkan mata
menarik nafas secara perlahan membuat bocah itu keheranan.
“apa yang kau ucapkan? Apakah
itu sebuah mantra? Mustahil, tidak masuk akal” si bocah mencibir
“cobalah mengikuti ucapanku,
pejamkan matamu. Itu akan membuat pikiranmu tenang. Ayah mengajariku ini.
Lakukan saja ketika kamu merasa penat, ini oleh-olehku” pinta gadis kecil itu.
Ia melanjutkan mantra anehnya. Ia memejamkan kedua matanya, angin menerpa
wajahnya. Rambutnya terjurai indah. “ Dan asal kamu tahu, Pohon ini bisa
berbicara denganmu. Katakanlah saja perasaanmu, pasti dia akan menjawabnya, dan
jangan lupa baca mantranya”
Bocah
itu hanya diam, cuek tidak perduli. Ia masih berpikir bahwa itu konyol, tidak
masuk akal. Tapi lama kelamaan ia mengikutinya
“Ooac acuu aba” ucapnya sedikit
tersendat
“Oca abu aca a” gadis itu
meneruskan mantranya. Dia tersenyum saat melirik bocah disampingnya menirukan
mantranya. Mereka berdua pun serempak merafalkan mantra itu.
“ini sudah jam empat sore. Aku
harus segera kembali ke tempatku datang tadi” Terang bocah itu. Dia mengambil
handphone di sakunya. Pesan dan panggilan tidak terjawab terpampang di layar.
Pasti pengawalnya tadi tidak henti-hentinya mencemaskan tuannya. Jasnya yang
tampak lusuh dikibaskannya membuang debu yang menempel lalu mengenakannya.
Kemudian dia berdiri tegap. Si gadis mengikutinya berdiri. Baju putihnya putih
bersih. Hanya ada sedikit debu di bagian dengkulnyna. Mungkin bekas ia berlutut
untuk membangunkan bocah tadi.
“baiklah, kita berpisah sekarang.
Apa kau mau aaku antarkan pulang?” ucap bocah itu
“tidak perlu, terima kasih sudah
menjadi temanku. Hari ini aku senang sekali”
Mereka
berpisah, berjalan menuju arah yang saling berlawanan. Tepat pohon pinus besar
tadi berada di tengah-tengah jarak mereka berdua. Mereka berjalan lurus tanpa
ada yang menoleh. Sinar mentari senja menambah efek haru perpisahan mereka
Baru
sepuluh detik berjalan si bocah itu menghentikan langkah kakinya. Ia
membalikkan badan menoleh ke arah gadis itu.
“ohya. Minggu depan kita bertemu
lagi di...” belum sempat bocah itu melanjutkan kalimatnya, “apa.. kemana dia?
Hilang?” bisik dia dalam hati. Pandangannya menelisik ke seluruh tempat. tapi
Gadis
tadi menghilang tanpa jejak.
sejak
hari itu mereka tidak pernah bertemu lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar