BAB
2
Matahari
belum lama muncul dari ufuk timur. Langit masih terlihat remang. Jalanan kota Surabaya
masih terlihat lengang dari kemacetan. Ini masih sekitar jam enam pagi.
Gedung-gedung perkantoran, sekolah, toko-toko juga masih sepi. Masih terdengar
suara kokokan ayam pagi hari membangunkan mahluk hidup yang masih pulas
tertidur. Ayam-ayam itu seperti memperingatkan bahwa mereka akan mematuk rejeki
orang-orang yang masih tertidur, sudah saatnya mereka bangun, saatnya mereka
bekerja. Dari luar gedung perusahaan Cokrolangit masih terlihat sepi, hanya ada
satpam yang mulai bergantian shift untuk siang hari. Beberapa karyawan satu
persatu mulai bedatangan.
Masuk
kedalam gedung, ruangan yang paling ramai adalah ruang OB(Office Boy). Sudah
pasti mereka harus datang lebih awal untuk menyiapkan segala kebutuhan teknis
perusahaan. Dan yang paling sibuk di pagi hari adalah OB bagian kebersihan.
Mereka harus cepat-cepat membersihkan seluruh sudut gedung, lantai, kaca,
jendela dan lain-lain.
Pukul
tujuh pagi gedung mulai ramai para karyawan yang bekerja. Dua orang OB sedang
membersihkan kaca jendela di ruangan Direktur Proyek. Pemilik ruangan ini
adalah Direktur Hendra. Umurnya sudah setengah baya, ia sudah lama mengabdi di
perusahaan Cokrolangit sejak kepemimpinan Presdir Agung dan hingga kini
dilanjutkan anaknya Firman. Direktur Hendra adalah orang kepercayaan Presdir
Agung sebagai tangan kanannya, sehingga dia diberi amanah untuk menjadi Direktur
bagian Proyek. Tapi itu tidak senada dengan Presdir saat ini, Firman. Meskipun Direktur
Hendra sangat dipercayai ayahnya, tapi Firman tidak mempercayainya sedikit pun.
Seperti
biasa Direktur Hendra datang terlambat ke kantor, sudah lebih setengah jam dari
jadwal kerja jam tujuh pagi. Semenjak Presdir Agung cuti sakit dan digantikan
Firman sebagai Presdir sementara, dia mulai menampakkan sisi asli dirinya.
“Dasar orang tidak berguna, jam
segini masih belum datang. Mau jadi apa imej perusahaan bila manajernya pemalas
begini.” Gumam seorang OB pria yang sedang mengelap kaca jendela belakang meja.
OB satunya perempuan sedang mengelap meja. Ia mengelap setiap sudut meja dengan
telaten. Sesekali ia mebenarkan kacamatanya yang miring. Dia hanya diam saja
mendengar gumaman temannya.
Tak
lama kemudaian engsel pintu ruangan berdenyit. Seseorang berjas biru gelap
masuk kedalam ruangan sambil memegang handphone di tangan kirinya. Ia sedang
menelpon seseorang. Lalu ia duduk, tidak memperdulikan pegawai rendahan yang
ada di sekitarnya. Dia adalah Direktur Hendra, dia baru datang jam delapan
pagi. OB pria tersenyum sinis melihat kedatangan manajer pemalas itu.
“ya tuan, bisa diatur. Semua beres
yang penting tuan wani piro(berani
berapa)?” cakap manajer hendara di telepon sambil senyum-senyum sendiri. Ia
sedang berbicara entah dengan siapa.
“dengan siapa dia bicara, apa
yang sedang dia bahas?” gumam pelan OB pria. Dia mencoba mendekat menguping apa
yang Direktur Hendra bicarakan Seperti seorang mata-mata yang sedang menggali
informasi dari musuh Tapi sebelum terdengar apapun.
“hei kau, lap sepatuku ini” perintah Direktur
Hendra kepada OB pria itu, “baik pak” sahut OB pria meraih sepatu atasannya.
“hati-hati ini sepatu mahal, jika lecet gajimu seumur hidup tidak akan bisa
menggantinya” sombong Direktur Hendra.
“dan kau” tunjuk ke arah OB
perempuan yang sedang menyapu lantai. “ambilkan aku minum” perintah Direktur
Hendra.
“baik pak. Bapak mau minum apa?,
jus, teh, atau kopi?” tanya OB itu. “kopi pahit”. Langsung OB perempuan itu
keluar ruangan menjalankan titah mengambil kopi.
“dasar tua bangka, jam segini
minum kopi untuk menutupi wajahmu yang ngantuk malas” gumam pelan OB pria, ia masih mengelap sepatu atasannya. Direktur
Hendra tidak mendengarkan gumaman itu, ia sibuk bicara di telpon. Sambil
mengelap perlahan OB pria itu mendengarkan percakapan atasannya.
“tenang saja, jika aku berhasil
proyek Resort Internasional BimoSeno akan menjadi milikmu. Aku hanya tinggal
menipu Presdir anak ingusan itu.” Ucapnya dengan wajah nyengir. Mendengar hal
itu OB pria terperanjat menjatuhkan kaki Direktur Hendra. “ maaf tuan”.
Kemudian OB perempuan masuk dengan mambawa segelas kopi berwarna hitam pekat diatas
nampan. Ia menyuguhkannya ke Direktur Hendra. Kemudian diminumnya kopi itu
dengan sedikit mengecap bibir. Kedua OB
itu bersama-sama keluar ruangan meninggalkan menajer Hendra. Pekerjaan
mereka telah selesai.
“Tuan, sampai kapan anda akan
melakukan hal ini? Ini sudah keempat kalinya dalam dua minggu ini” tanya OB
perempuan. Mereka sekarang sedang berdiri di sebuah sudut gedung tidak jauh
dengan ruangan Direktur Hendra. OB pria itu mulai melepas topinya, mencopot
kumis dibawah hidungnya yang ternyata palsu. OB disampingnya juga ikut
melepaskan ikatan rambutnya, rambutnya terjurai lurus sepinggang, lalu ia
memakai sebuah kaca mata. Dan sekarang mereka telah berubah penampilan seratus
delapan puluh derajat. Tidak lagi memakai pakaian lusuh pegawai rendahan.
memaikai kemeja, jas hitam dan celana, sangat rapi, yang perempuan memakai rok
yang panjangnya satu jengkal dari mata kaki dengan memakai jas berwarna abu
abu. Rambutnya diikat lagi satu lagi dibagia belakang, ada poni di dahinya
sambil memakai kacamata bulat kecil membuatnya tampak seperti seorang karyawan
lugu dan penurut.
“bukankah sudah sering kali aku
katakan kepadamu Cindy, aku melakukan penyamaran ini agar tahu seberapa kotornya
orang-orang berwajah manis itu” ketus pria itu.
“ya tuan Presdir Firman, maafkan
saya. Tapi apa tidak masalah?” cemas perempuan itu
“huwahaha. kau tenang saja
Cindy, ikuti saja semua perintahku sebagai tugas seorang sekretaris pribadi.
Hal seperti ini juga harus kau lakukan, meskipun ini sedikt gila. Tapi semua
ini aku lakukan demi kebaikan perusahaan ini. Aku tidak ingin perusahaan yang
dibangun ayahku ini hancur oleh tangan-tangan kotor mereka,” ujar Firman dengan
ekspresi seorang proklamator.
Itulah
kelakuan aneh Firman, Presdir perusahaan Cokrolangit dengan Cindy, sekretaris
pribadinya. Semenjak Firman diangkat menjadi Presdir sementara tiga bulan yang
lalu, dia melakukan banyak perombakan besar di perusahaannya. Banyak pegawai
yang mendadak dipecat, juga ada yang dipromosikan, tanpa ada sebab yang jelas
tapi ada bukti kuat. Firman dan sekretaris Cindy melakukan penyamaran menjadi
OB untuk memata-matai pegawainya yang nakal. Mereka sudah mekakukannya sejak
dua bulan yang lalu.
Mereka
berdua berjalan, Firman didepan dan sekretaris Cindy menempel dibelakangnya
sambil membopong sebuah Tablet di tangan kirinya. Berjalan beriringan
selayaknya tuan dan abdinya. Mereka memasuki sebuah ruangan megah. Itu adalah
ruangan pemimpin tertinggi perusahan, ruangan Presdir. Firman duduk di kursi besarnya, ada sebuah
bunga diatas meja. Sekreteris Cindy berdiri disampingnya. Dia menggeser-geser
layar tablet melihat beberapa jadwal.
“apa jadwal hari ini?” tanya
Firman
“pukul sembilan rapat dewan
direksi di ruang rapat utama lantai dua puluh dengan agenda evaluasi tiga
bulanan, pukul dua belas makan siang dengan direktur Aji dari perusahaan baja
ringan dan terakhir pukul empat belas
memberikan pengarahan kepada karyawan magang di ruang serbaguna lantai
lima” jelas sekretaris Cindy denga lugas dan rinci. “masih ada senggang lima
belas menit menuju agenda pertama”. Firman manyilangkan kakinya lalu melihat
Cindy “padat juga jadwalku hari ini. Baiklah lakukan seperti biasanya” perintah
firman, dia menepuk tangan tiga kali. Dalam sekejap keluar dua orang pelayan.
Satu orang membawa baskom kecil dan handuk, sedangkan satunya membawa sisir
rambut dan cermin. Mereka mendekat dan berhenti tepat di depan meja memandang
atasannya dengan senyuman.
Sekretaris
Cindy mengacungkan satu jari. Pelayang pembawa baskom dan handuk maju kedepan
berdiri disamping Cindy. Cindy mengangkat handuk, mencelupkannya ke air baskom,
kemudian mengelap wajah tuannya. Selesai berganti pelayan satunya yang maju
kedepan. Cindy mengambil Sisir rambut
dan memberikannya ke Firman. Firman menyisir rambutnya yang mengkilat sedangkan
Cindy memegang cermin mengikuti gerakan tangan tuannya. Ini salah satu kelakuan
mereka yang aneh. Bila dilihat orang
lain mereka akan salah paham, ini sama sekali bukan tingkah antara Presdir dan
Sekretarisnya melainkan tingkah antara tuan dan budaknya. Tapi itu tidak akan
terjadi. Karena pintu ruangan akan dikunci selama ritual ini berlangsung.
Selesai, Firman menepuk tiga kali dan kedua pelayan itu pergi.
Firman
Cokro hermansyah adalah nama lengkapnya. Ia berusia tiga puluh dua tahun, anak
pertama dari Agung Cokro, Presdir Cokrolangit. Sebelum diangkat menjadi Presdir
sementara dia menjabat sebagai manajer marketing. Dia sudah bekerja di
peusahaan ayahnya sejak umur dua puluh tiga
tahun selepas kuliah. Memiliki
tabiat yang eksentrik membuatnya sering melakukan terobosan yang
cenderung aneh. Meskipun aneh tapi selalu kreatif menggaet pasar menjadikan
perusahaannya semakin besar, saham perusahaan tinggi, dan investasi lancar.
Kemampuannya membuatnya disegani oleh dewan direksi perusahaan.
“kita berangkat sekarang!” ucap
Firman berdiri lalu berjalan diikuti Cindy di belakangnya.
* * * * *
Para
petinggi perusahaan sudah duduk di kursi masing masing. Ruang rapat utama
mempunyai meja melingkar layaknya meja rapat pada umumnya. Terdapat satu kursi
besar yang hanya boleh ditempati seorang Presdir dan dibelakangnya tertempel
ukiran logo perusahaan. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, masuklah Presdir
perusahaan, Firman dan sekertarisnya Cindy.
Rapat
dimulai dengan pembahasan ringan, pemasukan dan pengeluaran, pemasaran, iklan
dan lain-lain. Rapat di pimpin langsuung oleh Presdir. Firman sudah terbiasa
memimpin rapat karena sebelum diangkat menjadi presdir dia sudah beberapa kali
memimpin rapat ketika ayahnya berhalangan. Para dewan mengikuti dengan seksama,
sesekali ada pertanyaan yang diajukan dan dijawab dengan baik.
Cindy
hanya berdiri diam disamping atasannya. Dia tidak punya hak bicara dalam forum
ini. Ketika ada sesuatu yang dianggap penting dia segera mencatatnya. Hingga
inti rapat selesai dan kini tiba pada evaluasi secara personal.
“mari kita lihat layar ini” ucap
lantang Firman.
Pada
layar LCD terpempang sederetan nama dan angka. Ada nama yang diblok warna
hijau, ada beberapa yang berwarna kuning dan ada dua nama yang berwarna merah.
Warna-warna itu punya maksud. Para dewan menatap layar itu dengan seksama.
Beberapa tersenyum melihat, namun lebih banyak yang tertunduk. Mereka tahu
maksud warna-warna itu.
“ini adalah rekapitulasi kedisilinan
para dewan, mulai dari ketepatan masuk kerja, ketidakhadiran, cuti, hingga
evaluasi pegawai” firman berdiri sambil menunjuk layar LCD. Suaranya yang keras
membuat suasana tegang menyeruak ke seluruh isi ruangan. Beberapa dewan tampak
resah, ekspresi Direktur Hendra geram melihat namanya diblok merah. wajah
Firman berubah memerah, tatapannya tajam meyelidik ke seluruh wajah di
depannya. “perusahaan ini sudah terkenal dimana-mana baik skala nasional maupun
internasional mengenai keprofesioanalannya dalam berbisnis, mitra yang dapat
dipercaya dan selalu memberikan hasil yang memuaskan untuk setiap klien bisnisnya.
Semua itu dibangun dengan mengorbankan masa muda ayahku, kedisiplinan yang
selalu dijunjung tinggi dan tidak meninggalkan moral dalam berbisnis. Tapi apa
yang kita lihat sekarang sungguh memalukan. Anda semuanya adalah petinggi
perusahaan, seharusnya memberikan contoh yang baik, tidak seenaknya sendiri.”
Suasana semakin tegang, tidak ada suara apapun kecuali suara kemarahan Firman.
Cindy hanya terpaku disampingnya, dia juga merasakan aura yang tidak
mengenakkan itu. Beberapa dewan yang tadi sempat tersenyum sekarang ikut
tegang. Kemudia Firman duduk, amarahnya sedikit turun.
“Tolong maafkan kami” ucap direktur
kamal
“iya, maafkan kami. Itu adalah
kelalaian kami” tambah Direktur Hendra, ia melirik ke sampingnya memberikan
isyarat. Serempak semua dewan membungkuk “tolong maafkan kami”. Forum kini
dipenuhi dengan bisik-bisik kecil. Para dewan saling toleh.
“selain masalah kedisiplinan, satu
lagi yang perlu dibahas” ujar Firman kini emosinya sudah terkendali. Para dewan
kembali menatap layar LCD.
“Apakah itu keponakanku?
Bukankah semua tentang perusahaan sudah kita bahas?” tanya Direktur kamal
sebagai pamannya.
“hadirin dewan sekalian. Perusahaan
ini sudah berdiri sejak empat puluh tahun lalu. Ayahku sendiri yang mendirikan
perusahaan ini ketika usianya tiga puluh tahun. Dulu perusahaan Cokrolangit ini
hanyalah sebuah toko bangunan kecil di pinggiran kota. Saya yakin anda semua
pasti sudah mengetahui tentang itu. Dengan perjuangan keras sehingga kini
perusahaan ini telah menjadi perusahaan besar yang disegani. Setiap harinya
perusahaan ini beroperasi dengan uang milyaran rupiah, jumlah yang tidak kecil.
Gaji karyawan perusahaan juga tinggi, bahkan anda semua yang sedang duduk
disini memiliki kehidupan yang makmur terjamin. Ayahku menaruh amanah besar
diatas pundak anda semua.
“saya selaku presdir juga
mengharapkan kontribusi yang maksimal dari anda semua. Saya ingin kita semua
berjuang bersama-sama untuk membangun perusahaan ini, membesarkan Cokrolangit,
menjadikannya perusahaan yang disegani di segala tingkat mulai kancah nasional
hingga internasional. Itu harapan besar saya dan juga ayah saya. Untuk itu saya
tidak menginginkan adanya sarang tikus di perusahaan ini” Firman berhenti
sejenak. para dewan mulai berbisik lagi “ apa maksudnya sarang tikus?”.
Firman
berdiri, dia berjalan mengitari meja. Berjalan perlahan dibelakang kursi para
dewan. “saya tidak ingin perusahaan ini hancur oleh tangan-tangan orang yang
tidak bertanggung jawab. Tidak perduli siapa pun, bila dia terbukti melakukan
kejahatan maka aku selaku presdir akan bertindak tegas”. Firman sampai di
kursinya kembali
“apakah ada yang salah?, Presdir
Firman” tanya Direktur Hendra
“huwahaa” Firman tertawa keras. Semua orang tidak memperhatikan tawa itu, karena itu sudah kebiasaannya sejak kecil.
“huwahaa” Firman tertawa keras. Semua orang tidak memperhatikan tawa itu, karena itu sudah kebiasaannya sejak kecil.
“begini tuan hendra” ucap
firman. Lalu dia bertepuk sekali. Cindy mengerti arti tepuk itu. Dia
menampilkan sebuah diagram pada layar. “seperti yang anda semua lihat di layar
ini. Yang berwarna biru adalah diagram keuangan yang sudah dilaporkan oleh
bagian keuangan tadi. Lalu ada diagram warna biru adalah dana siluman. Ada beberapa
ketimpangan. Benar dalam slide
semuanya dilaporkan dengan baik. Namun saya berhasil mendapatkan data yang
menunjukkan ketidakabsahan laporan tersebut. Data ini relevan. Oleh karena itu,
saya tadi mengatakan kalau perusahaan ini menjadi sarang tikus”. Suasana forum
semakin menjadi kacau. Terdengar suara bergemuruh dari para dewan direksi.
“ada beberapa nama yang sudah
saya pegang. Saya akan lebih waspada. Itu saja rapat untuk hari ini. Terima
kasih atas perhatiannya dan mohon maaf bila ada hal yang kurang mengenakkan”
ucap Firmann menutup rapat evaluasi pagi ini. Seluruh dewan direksi beranjak
pergi meninggalkan ruangan rapat. Masih terlihat mereka saling berbisik. Di dekat pintu
Direktur Hendra melirik Firman, berbisik dengan beberapa dewan lalu pergi.
Direktur kamal masih duduk di tempatnya.
“aku bangga dengan sifatmu yang
tegas. Namun justru karena itu aku sebagai adik dari ayahmu sangat
mencemaskanmu dengan sikapmnu tadi. Kamu akan menghadapi kesulitan” ucap
Direktur Kamal. Dia memandang wajah keponakannya, seakan dia melihat kakaknya
dalam diri Firman.
Paman
Kamal diblok warna hijau. Itu sudah pasti karena pamannya ini ikut berjuang
bersama ayanhya membangun perusahaan ini. Kedisiplinannya tidak diragukan lagi.
Dia satu-satunya dewan yang dipercaya Firman sehingga tidak perlu penyamaran
untuknya
“paman tenang saja, jangan
khawatir denganku. Aku pasti bisa mengatasinya. Karena aku adalah keturunan
ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak sombong, huwahaha
ha” mereka semua tertawa, Firman, Cindy dan tuan Kamal.
* * * * *
Pukul
satu siang Firman dan Sekretaris Cindy sedang duduk berdampingan di sebuah meja
restoran. Direktur Aji dari perusahaan baja ringan duduk di depan mereka,
mereka mengobrol dengan santai. Wajah Direktur Aji yang Friendly membuat suasana pertemuan bisnis lebih rileks. Mereka
berbicara sambil menyantap hidangan diatas meja.
Restoran
ini tidak terlalu jauh dari gedung. Restoran mewah yang sedang ramai orang
makan siang. Kebanyakan para karyawan perusahaan disekitar kompeks bisnis Surabaya
makan siang di restoran ini. Pertemuan dilakukan di bagian yang lebih mewah.
Meja kayu mengkilap dan kursi kayu ukir yang penuh estetika menjadi tempat
pertemuan. Berbagai hidangan mewah sudah tersaji diatas meja.
“sudah sepuluh tahun kami
bekerjasama dengan perusahaanmu. Sejak ayahmu yang memimpin. Kami tidak pernah
sekalipun mendapatkan kekecewaan dari perusahaanmu. Semoga itu bisa menurun
padamu anak muda” ujar pria setengah baya berjas coklat, direktur Aji.
Mendengar itu Firman langsung tertawa keras. Cindy hanya tersenyum, sesekali
dia membenarkan poni dan kacamatanya.
“ngomong-ngomong sejak tadi aku
belum kamu kenalkan dengan pacarmu ini” celetuk Direktur Aji. Mendengar itu
Cindy gemetar tersipu malu. Dia jadi salah tingkah. Dia menggosok poninya.
Firman tanpa ekspresi.
“huawahaha. Candaan tuan lucu
sekali. maaf saya lupa belum mengenalkannya kepada anda. Dia sekretarisku
namanya Cindy.” Terang Firman. Suasana mereda.
“sayang sekali. andai aku masih
muda aku mungkin akan menjadikanmu pacarku. Berapa umurmu nona?”
“du.. dua puluh sembilan, tuan”
jawab cindy. Direktur Aji mengangkat pundak terkejut. “umurmu dua puluh
sembilan?, bagaimana bisa. Wajahmu masih tampak seperti gadis umur sembilan
belas tahun. Mungkin ini yang disebut baby-face”. Direktur Firman minum jus di
depannya.
“dia sudah menjadi sekeretarisku
sejak aku mejabat manajer pemasaran. Sudah enam tahun yang lalu. Pekerjaannya
bagus, sangat disiplin. Itulah yang membuatku mempertahankannya” terang Firman
Topik
pembicaraan semakin melebar. “ lalu apa kau sudah punya pacar?, atau calon
istri?”
“huwahaa. Untungnya sudah,” suasana
lengang.
“sayang sekali, aku punya banyak
kenalan perempuan cantik dan berpendidikan”
“terimakasih, tanpa ada yang
mengenalkan sudah banyak yang antri, bahkan ambil nomer urut. Huwahaha”
“selera humormu bagus juga anak
muda. Mungkin kita bisa semakin akrab. Ayahmu dan aku sudah lama bersahabat.
Semoga kerjasama baik ini akan dapat terus terjalin”.
Direktur
Aji menyeruput jus untuk terakhir kalinya, merapikan baju dan jasnya. Tangan
kanan memegang tas jinjing dan berdiri. Firman dan Cindy ikut berdiri.
“terima kasih, firman” ucap
Direktur Aji
“sama-sama, tuan”
Direktur
Aji beranjak meninggalkan mereka berdua. Sekarang tinggal Firman dan sekretaris
pribadinya. Mereka duduk kembali.
“kenapa wajahmu tadi memerah
saat ditanya tuan Aji?” tanya Firman datar.
“anu.. itu..” Cindy gugup
giginya bergetar, keringat membasahai dahinya, membuat poninya tidak teratur.
Cindy yang tampak kikuk membuat Firman tertawa keras lagi.
“ini nih, yang membuatmu hingga
sekarang belum dapat pacar. Aku heran kenapa kau selalu gemetaran ketika
menyinggung tentang percintaan. Kalau
begini terus, bisa-bisa kau jadi perawan tua” sindir Firman.
Wajah
Cindy pucat pasi, pasrah tidak berkata apa-apa. Cindy menelan ludah, menarik
nafas perlahan. Dia bergumam pelan, tidak terdengar apa yang diucapkannya.
“Dasar kau ini seperti kuda
poni. Kau harus mencoba merubah dirimu, jadilah Pegasus yang gagah berani”.
Hibur Firman. Firman memegang pundak Cindy. Angin hayalan seperti berhembus
sejuk. Cindy menoleh. “Semangat!”. Wajah cindy menjadi sedikit lebih cerah.
Firman
melihat dengan seksama wajah Cindy. Dia hanya gadis biasa. Firman mengingat
pertama kalinya mereka bertemu. Ketika itu Firman baru saja setahun lulus dari
kuliah di australia jurusan bisnis. Dia diamanahi ayahnya untuk menjadi manajer
marketing. Hal pertama yang dilakukan
Firman adalah mencari seorang sekretaris pribadi. Dia membuat iklan lowongan
pekerjaan dan menempelkannya di papan pengumuman perusahaan. Banyak yang
mengajukan diri, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak sedikit dari
perempuan-perempuan itu yang sangat
cantik dan seksi layaknya gambaran seorang sekretaris dalam film-film
barat. Firman yang suka aneh-aneh tidak mencari hal yang sudah mainstream. Saat itulah dia melihat Cindy yang pendiam, Cindy yang pemalu. Ketika diwawancarai Firman,
Cindy gugup bukan main seperti ekspresinya saat ini. Tapi itulah yang dicari
Firman. Dia tidak butuh orang yang bergaya, dia butuh orang yang apa adanya,
orang yang dapat dipercaya dan pastinya orang yang mau diajak melakukan hal-hal
gila. Cindy terlalu lugu untuk menolak segala rencana gila Firman.
“semangatlah, agar kita bisa
mencapai tujuanku. Dengan cara yang gila, huwahaha”. Mendengar kalimat Firman,
Cindy tersenyum manis. Atmosfir menjadi semakin sejuk.
Mereka
berdiri karena masih ada agenda selanjutnya dan sekarang sudah jam setengah dua.
* * * * *
Firman
bediri di depan pintu masuk gedung, Cindy berdiri dibelakangnya. Langit sedang
mendung sore hari ini. Bau tanah basah tersebar oleh angin dingin yang
berhembus. Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan cumolonimbus yang gelap,
sebentar lagi akan turun hujan.
Sebuah
mobil mercy hitam datang dari gerbang. Mobil berhenti tepat di depan Firman. Adalah
Pak Hadi, Sopir pribadi Firman keluar membukakan pintu mobil mempersilahkan
tuannya masuk.
Tepat
setelah memberikan pengarahan kepada karyawan tadi Firman mendapat telepon
mendadak dari mamanya. “cepat pulang sekarang, situasi genting”.
“kau boleh pulang. Besok jangan
sampai terlambat, meskipun kau tak pernah terlambat. Dan ingat, jangan hanya
jadi kuda poni, jadilah Pegasus yang gagah berani”
“baik tuan” ucap Cindy
mengangguk. Kemudian Firman masuk kedalam mobil. Pak Hadi menyetir mobil mercy
hitam itu pergi. Ketika bayangan mobil tiba di luar gerbang hujan turun dari
langit. Hujan yang deras. Dengan cepat tanah dan jalanan menjadi basah dan
tertutup oleh genangan air.
Cindy
yang masih berdiri di depan pintu utama membenarkan kacamatanya dan melihat jam
tangan. Ini sudah waktunya pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar