Powered By Blogger

Kamis, 06 Oktober 2016

Project A Episode 2



BAB 2

Matahari belum lama muncul dari ufuk timur. Langit masih terlihat remang. Jalanan kota Surabaya masih terlihat lengang dari kemacetan. Ini masih sekitar jam enam pagi. Gedung-gedung perkantoran, sekolah, toko-toko juga masih sepi. Masih terdengar suara kokokan ayam pagi hari membangunkan mahluk hidup yang masih pulas tertidur. Ayam-ayam itu seperti memperingatkan bahwa mereka akan mematuk rejeki orang-orang yang masih tertidur, sudah saatnya mereka bangun, saatnya mereka bekerja. Dari luar gedung perusahaan Cokrolangit masih terlihat sepi, hanya ada satpam yang mulai bergantian shift untuk siang hari. Beberapa karyawan satu persatu mulai bedatangan.
Masuk kedalam gedung, ruangan yang paling ramai adalah ruang OB(Office Boy). Sudah pasti mereka harus datang lebih awal untuk menyiapkan segala kebutuhan teknis perusahaan. Dan yang paling sibuk di pagi hari adalah OB bagian kebersihan. Mereka harus cepat-cepat membersihkan seluruh sudut gedung, lantai, kaca, jendela dan lain-lain.
Pukul tujuh pagi gedung mulai ramai para karyawan yang bekerja. Dua orang OB sedang membersihkan kaca jendela di ruangan Direktur Proyek. Pemilik ruangan ini adalah Direktur Hendra. Umurnya sudah setengah baya, ia sudah lama mengabdi di perusahaan Cokrolangit sejak kepemimpinan Presdir Agung dan hingga kini dilanjutkan anaknya Firman. Direktur Hendra adalah orang kepercayaan Presdir Agung sebagai tangan kanannya, sehingga dia diberi amanah untuk menjadi Direktur bagian Proyek. Tapi itu tidak senada dengan Presdir saat ini, Firman. Meskipun Direktur Hendra sangat dipercayai ayahnya, tapi Firman tidak mempercayainya sedikit pun.
Seperti biasa Direktur Hendra datang terlambat ke kantor, sudah lebih setengah jam dari jadwal kerja jam tujuh pagi. Semenjak Presdir Agung cuti sakit dan digantikan Firman sebagai Presdir sementara, dia mulai menampakkan sisi asli dirinya.
                “Dasar orang tidak berguna, jam segini masih belum datang. Mau jadi apa imej perusahaan bila manajernya pemalas begini.” Gumam seorang OB pria yang sedang mengelap kaca jendela belakang meja. OB satunya perempuan sedang mengelap meja. Ia mengelap setiap sudut meja dengan telaten. Sesekali ia mebenarkan kacamatanya yang miring. Dia hanya diam saja mendengar gumaman temannya.
Tak lama kemudaian engsel pintu ruangan berdenyit. Seseorang berjas biru gelap masuk kedalam ruangan sambil memegang handphone di tangan kirinya. Ia sedang menelpon seseorang. Lalu ia duduk, tidak memperdulikan pegawai rendahan yang ada di sekitarnya. Dia adalah Direktur Hendra, dia baru datang jam delapan pagi. OB pria tersenyum sinis melihat kedatangan manajer pemalas itu.
                “ya tuan, bisa diatur. Semua beres yang penting tuan wani piro(berani berapa)?” cakap manajer hendara di telepon sambil senyum-senyum sendiri. Ia sedang berbicara entah dengan siapa.
                “dengan siapa dia bicara, apa yang sedang dia bahas?” gumam pelan OB pria. Dia mencoba mendekat menguping apa yang Direktur Hendra bicarakan Seperti seorang mata-mata yang sedang menggali informasi dari musuh Tapi sebelum terdengar apapun.
                 “hei kau, lap sepatuku ini” perintah Direktur Hendra kepada OB pria itu, “baik pak” sahut OB pria meraih sepatu atasannya. “hati-hati ini sepatu mahal, jika lecet gajimu seumur hidup tidak akan bisa menggantinya” sombong Direktur Hendra.
                “dan kau” tunjuk ke arah OB perempuan yang sedang menyapu lantai. “ambilkan aku minum” perintah Direktur Hendra.
                “baik pak. Bapak mau minum apa?, jus, teh, atau kopi?” tanya OB itu. “kopi pahit”. Langsung OB perempuan itu keluar ruangan menjalankan titah mengambil kopi.
                “dasar tua bangka, jam segini minum kopi untuk menutupi wajahmu yang ngantuk malas” gumam pelan OB  pria, ia masih mengelap sepatu atasannya. Direktur Hendra tidak mendengarkan gumaman itu, ia sibuk bicara di telpon. Sambil mengelap perlahan OB pria itu mendengarkan percakapan atasannya.
                “tenang saja, jika aku berhasil proyek Resort Internasional BimoSeno akan menjadi milikmu. Aku hanya tinggal menipu Presdir anak ingusan itu.” Ucapnya dengan wajah nyengir. Mendengar hal itu OB pria terperanjat menjatuhkan kaki Direktur Hendra. “ maaf tuan”. Kemudian OB perempuan masuk dengan mambawa segelas kopi berwarna hitam pekat diatas nampan. Ia menyuguhkannya ke Direktur Hendra. Kemudian diminumnya kopi itu dengan sedikit mengecap bibir. Kedua OB  itu bersama-sama keluar ruangan meninggalkan menajer Hendra. Pekerjaan mereka telah selesai.
                “Tuan, sampai kapan anda akan melakukan hal ini? Ini sudah keempat kalinya dalam dua minggu ini” tanya OB perempuan. Mereka sekarang sedang berdiri di sebuah sudut gedung tidak jauh dengan ruangan Direktur Hendra. OB pria itu mulai melepas topinya, mencopot kumis dibawah hidungnya yang ternyata palsu. OB disampingnya juga ikut melepaskan ikatan rambutnya, rambutnya terjurai lurus sepinggang, lalu ia memakai sebuah kaca mata. Dan sekarang mereka telah berubah penampilan seratus delapan puluh derajat. Tidak lagi memakai pakaian lusuh pegawai rendahan. memaikai kemeja, jas hitam dan celana, sangat rapi, yang perempuan memakai rok yang panjangnya satu jengkal dari mata kaki dengan memakai jas berwarna abu abu. Rambutnya diikat lagi satu lagi dibagia belakang, ada poni di dahinya sambil memakai kacamata bulat kecil membuatnya tampak seperti seorang karyawan lugu dan penurut.
                “bukankah sudah sering kali aku katakan kepadamu Cindy, aku melakukan penyamaran ini agar tahu seberapa kotornya orang-orang berwajah manis itu” ketus pria itu.
                “ya tuan Presdir Firman, maafkan saya. Tapi apa tidak masalah?” cemas perempuan itu
                “huwahaha. kau tenang saja Cindy, ikuti saja semua perintahku sebagai tugas seorang sekretaris pribadi. Hal seperti ini juga harus kau lakukan, meskipun ini sedikt gila. Tapi semua ini aku lakukan demi kebaikan perusahaan ini. Aku tidak ingin perusahaan yang dibangun ayahku ini hancur oleh tangan-tangan kotor mereka,” ujar Firman dengan ekspresi seorang proklamator.
Itulah kelakuan aneh Firman, Presdir perusahaan Cokrolangit dengan Cindy, sekretaris pribadinya. Semenjak Firman diangkat menjadi Presdir sementara tiga bulan yang lalu, dia melakukan banyak perombakan besar di perusahaannya. Banyak pegawai yang mendadak dipecat, juga ada yang dipromosikan, tanpa ada sebab yang jelas tapi ada bukti kuat. Firman dan sekretaris Cindy melakukan penyamaran menjadi OB untuk memata-matai pegawainya yang nakal. Mereka sudah mekakukannya sejak dua bulan yang lalu.
Mereka berdua berjalan, Firman didepan dan sekretaris Cindy menempel dibelakangnya sambil membopong sebuah Tablet di tangan kirinya. Berjalan beriringan selayaknya tuan dan abdinya. Mereka memasuki sebuah ruangan megah. Itu adalah ruangan pemimpin tertinggi perusahan, ruangan Presdir.  Firman duduk di kursi besarnya, ada sebuah bunga diatas meja. Sekreteris Cindy berdiri disampingnya. Dia menggeser-geser layar tablet melihat beberapa jadwal.
                “apa jadwal hari ini?” tanya Firman
                “pukul sembilan rapat dewan direksi di ruang rapat utama lantai dua puluh dengan agenda evaluasi tiga bulanan, pukul dua belas makan siang dengan direktur Aji dari perusahaan baja ringan dan terakhir pukul empat belas  memberikan pengarahan kepada karyawan magang di ruang serbaguna lantai lima” jelas sekretaris Cindy denga lugas dan rinci. “masih ada senggang lima belas menit menuju agenda pertama”. Firman manyilangkan kakinya lalu melihat Cindy “padat juga jadwalku hari ini. Baiklah lakukan seperti biasanya” perintah firman, dia menepuk tangan tiga kali. Dalam sekejap keluar dua orang pelayan. Satu orang membawa baskom kecil dan handuk, sedangkan satunya membawa sisir rambut dan cermin. Mereka mendekat dan berhenti tepat di depan meja memandang atasannya dengan senyuman.
Sekretaris Cindy mengacungkan satu jari. Pelayang pembawa baskom dan handuk maju kedepan berdiri disamping Cindy. Cindy mengangkat handuk, mencelupkannya ke air baskom, kemudian mengelap wajah tuannya. Selesai berganti pelayan satunya yang maju kedepan.  Cindy mengambil Sisir rambut dan memberikannya ke Firman. Firman menyisir rambutnya yang mengkilat sedangkan Cindy memegang cermin mengikuti gerakan tangan tuannya. Ini salah satu kelakuan mereka yang aneh. Bila dilihat  orang lain mereka akan salah paham, ini sama sekali bukan tingkah antara Presdir dan Sekretarisnya melainkan tingkah antara tuan dan budaknya. Tapi itu tidak akan terjadi. Karena pintu ruangan akan dikunci selama ritual ini berlangsung. Selesai, Firman menepuk tiga kali dan kedua pelayan itu pergi.
Firman Cokro hermansyah adalah nama lengkapnya. Ia berusia tiga puluh dua tahun, anak pertama dari Agung Cokro, Presdir Cokrolangit. Sebelum diangkat menjadi Presdir sementara dia menjabat sebagai manajer marketing. Dia sudah bekerja di peusahaan ayahnya sejak umur dua puluh tiga  tahun selepas kuliah. Memiliki  tabiat yang eksentrik membuatnya sering melakukan terobosan yang cenderung aneh. Meskipun aneh tapi selalu kreatif menggaet pasar menjadikan perusahaannya semakin besar, saham perusahaan tinggi, dan investasi lancar. Kemampuannya membuatnya disegani oleh dewan direksi perusahaan.
                “kita berangkat sekarang!” ucap Firman berdiri lalu berjalan diikuti Cindy di belakangnya.
* * * * *
Para petinggi perusahaan sudah duduk di kursi masing masing. Ruang rapat utama mempunyai meja melingkar layaknya meja rapat pada umumnya. Terdapat satu kursi besar yang hanya boleh ditempati seorang Presdir dan dibelakangnya tertempel ukiran logo perusahaan. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, masuklah Presdir perusahaan, Firman dan sekertarisnya Cindy.
Rapat dimulai dengan pembahasan ringan, pemasukan dan pengeluaran, pemasaran, iklan dan lain-lain. Rapat di pimpin langsuung oleh Presdir. Firman sudah terbiasa memimpin rapat karena sebelum diangkat menjadi presdir dia sudah beberapa kali memimpin rapat ketika ayahnya berhalangan. Para dewan mengikuti dengan seksama, sesekali ada pertanyaan yang diajukan dan dijawab dengan baik.
Cindy hanya berdiri diam disamping atasannya. Dia tidak punya hak bicara dalam forum ini. Ketika ada sesuatu yang dianggap penting dia segera mencatatnya. Hingga inti rapat selesai dan kini tiba pada evaluasi secara personal.
                “mari kita lihat layar ini” ucap lantang Firman.
Pada layar LCD terpempang sederetan nama dan angka. Ada nama yang diblok warna hijau, ada beberapa yang berwarna kuning dan ada dua nama yang berwarna merah. Warna-warna itu punya maksud. Para dewan menatap layar itu dengan seksama. Beberapa tersenyum melihat, namun lebih banyak yang tertunduk. Mereka tahu maksud warna-warna itu.
                “ini adalah rekapitulasi kedisilinan para dewan, mulai dari ketepatan masuk kerja, ketidakhadiran, cuti, hingga evaluasi pegawai” firman berdiri sambil menunjuk layar LCD. Suaranya yang keras membuat suasana tegang menyeruak ke seluruh isi ruangan. Beberapa dewan tampak resah, ekspresi Direktur Hendra geram melihat namanya diblok merah. wajah Firman berubah memerah, tatapannya tajam meyelidik ke seluruh wajah di depannya. “perusahaan ini sudah terkenal dimana-mana baik skala nasional maupun internasional mengenai keprofesioanalannya dalam berbisnis, mitra yang dapat dipercaya dan selalu memberikan hasil yang memuaskan untuk setiap klien bisnisnya. Semua itu dibangun dengan mengorbankan masa muda ayahku, kedisiplinan yang selalu dijunjung tinggi dan tidak meninggalkan moral dalam berbisnis. Tapi apa yang kita lihat sekarang sungguh memalukan. Anda semuanya adalah petinggi perusahaan, seharusnya memberikan contoh yang baik, tidak seenaknya sendiri.” Suasana semakin tegang, tidak ada suara apapun kecuali suara kemarahan Firman. Cindy hanya terpaku disampingnya, dia juga merasakan aura yang tidak mengenakkan itu. Beberapa dewan yang tadi sempat tersenyum sekarang ikut tegang. Kemudia Firman duduk, amarahnya sedikit turun.
                “Tolong maafkan kami” ucap direktur kamal
                “iya, maafkan kami. Itu adalah kelalaian kami” tambah Direktur Hendra, ia melirik ke sampingnya memberikan isyarat. Serempak semua dewan membungkuk “tolong maafkan kami”. Forum kini dipenuhi dengan bisik-bisik kecil. Para dewan saling toleh.
                “selain masalah kedisiplinan, satu lagi yang perlu dibahas” ujar Firman kini emosinya sudah terkendali. Para dewan kembali menatap layar LCD.
                “Apakah itu keponakanku? Bukankah semua tentang perusahaan sudah kita bahas?” tanya Direktur kamal sebagai pamannya.
                “hadirin dewan sekalian. Perusahaan ini sudah berdiri sejak empat puluh tahun lalu. Ayahku sendiri yang mendirikan perusahaan ini ketika usianya tiga puluh tahun. Dulu perusahaan Cokrolangit ini hanyalah sebuah toko bangunan kecil di pinggiran kota. Saya yakin anda semua pasti sudah mengetahui tentang itu. Dengan perjuangan keras sehingga kini perusahaan ini telah menjadi perusahaan besar yang disegani. Setiap harinya perusahaan ini beroperasi dengan uang milyaran rupiah, jumlah yang tidak kecil. Gaji karyawan perusahaan juga tinggi, bahkan anda semua yang sedang duduk disini memiliki kehidupan yang makmur terjamin. Ayahku menaruh amanah besar diatas pundak anda semua.
                “saya selaku presdir juga mengharapkan kontribusi yang maksimal dari anda semua. Saya ingin kita semua berjuang bersama-sama untuk membangun perusahaan ini, membesarkan Cokrolangit, menjadikannya perusahaan yang disegani di segala tingkat mulai kancah nasional hingga internasional. Itu harapan besar saya dan juga ayah saya. Untuk itu saya tidak menginginkan adanya sarang tikus di perusahaan ini” Firman berhenti sejenak. para dewan mulai berbisik lagi “ apa maksudnya sarang tikus?”.
Firman berdiri, dia berjalan mengitari meja. Berjalan perlahan dibelakang kursi para dewan. “saya tidak ingin perusahaan ini hancur oleh tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak perduli siapa pun, bila dia terbukti melakukan kejahatan maka aku selaku presdir akan bertindak tegas”. Firman sampai di kursinya kembali
                “apakah ada yang salah?, Presdir Firman” tanya Direktur Hendra
                “huwahaa” Firman tertawa keras. Semua orang tidak memperhatikan tawa itu, karena itu sudah kebiasaannya sejak kecil.
                “begini tuan hendra” ucap firman. Lalu dia bertepuk sekali. Cindy mengerti arti tepuk itu. Dia menampilkan sebuah diagram pada layar. “seperti yang anda semua lihat di layar ini. Yang berwarna biru adalah diagram keuangan yang sudah dilaporkan oleh bagian keuangan tadi. Lalu ada diagram warna biru adalah dana siluman. Ada beberapa ketimpangan. Benar dalam slide semuanya dilaporkan dengan baik. Namun saya berhasil mendapatkan data yang menunjukkan ketidakabsahan laporan tersebut. Data ini relevan. Oleh karena itu, saya tadi mengatakan kalau perusahaan ini menjadi sarang tikus”. Suasana forum semakin menjadi kacau. Terdengar suara bergemuruh dari para dewan direksi.
                “ada beberapa nama yang sudah saya pegang. Saya akan lebih waspada. Itu saja rapat untuk hari ini. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf bila ada hal yang kurang mengenakkan” ucap Firmann menutup rapat evaluasi pagi ini. Seluruh dewan direksi beranjak pergi meninggalkan ruangan rapat. Masih terlihat  mereka saling berbisik. Di dekat pintu Direktur Hendra melirik Firman, berbisik dengan beberapa dewan lalu pergi. Direktur kamal masih duduk di tempatnya.
                “aku bangga dengan sifatmu yang tegas. Namun justru karena itu aku sebagai adik dari ayahmu sangat mencemaskanmu dengan sikapmnu tadi. Kamu akan menghadapi kesulitan” ucap Direktur Kamal. Dia memandang wajah keponakannya, seakan dia melihat kakaknya dalam diri Firman.
Paman Kamal diblok warna hijau. Itu sudah pasti karena pamannya ini ikut berjuang bersama ayanhya membangun perusahaan ini. Kedisiplinannya tidak diragukan lagi. Dia satu-satunya dewan yang dipercaya Firman sehingga tidak perlu penyamaran untuknya
                “paman tenang saja, jangan khawatir denganku. Aku pasti bisa mengatasinya. Karena aku adalah keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak sombong, huwahaha ha” mereka semua tertawa, Firman, Cindy dan tuan Kamal.
* * * * *
Pukul satu siang Firman dan Sekretaris Cindy sedang duduk berdampingan di sebuah meja restoran. Direktur Aji dari perusahaan baja ringan duduk di depan mereka, mereka mengobrol dengan santai. Wajah Direktur Aji yang Friendly membuat suasana pertemuan bisnis lebih rileks. Mereka berbicara sambil menyantap hidangan diatas meja.
Restoran ini tidak terlalu jauh dari gedung. Restoran mewah yang sedang ramai orang makan siang. Kebanyakan para karyawan perusahaan disekitar kompeks bisnis Surabaya makan siang di restoran ini. Pertemuan dilakukan di bagian yang lebih mewah. Meja kayu mengkilap dan kursi kayu ukir yang penuh estetika menjadi tempat pertemuan. Berbagai hidangan mewah sudah tersaji diatas meja.
                “sudah sepuluh tahun kami bekerjasama dengan perusahaanmu. Sejak ayahmu yang memimpin. Kami tidak pernah sekalipun mendapatkan kekecewaan dari perusahaanmu. Semoga itu bisa menurun padamu anak muda” ujar pria setengah baya berjas coklat, direktur Aji. Mendengar itu Firman langsung tertawa keras. Cindy hanya tersenyum, sesekali dia membenarkan poni dan kacamatanya.
                “ngomong-ngomong sejak tadi aku belum kamu kenalkan dengan pacarmu ini” celetuk Direktur Aji. Mendengar itu Cindy gemetar tersipu malu. Dia jadi salah tingkah. Dia menggosok poninya. Firman tanpa ekspresi.
                “huawahaha. Candaan tuan lucu sekali. maaf saya lupa belum mengenalkannya kepada anda. Dia sekretarisku namanya Cindy.” Terang Firman. Suasana mereda.
                “sayang sekali. andai aku masih muda aku mungkin akan menjadikanmu pacarku. Berapa umurmu nona?”
                “du.. dua puluh sembilan, tuan” jawab cindy. Direktur Aji mengangkat pundak terkejut. “umurmu dua puluh sembilan?, bagaimana bisa. Wajahmu masih tampak seperti gadis umur sembilan belas tahun. Mungkin ini yang disebut baby-face”. Direktur Firman minum jus di depannya.
                “dia sudah menjadi sekeretarisku sejak aku mejabat manajer pemasaran. Sudah enam tahun yang lalu. Pekerjaannya bagus, sangat disiplin. Itulah yang membuatku mempertahankannya” terang Firman
Topik pembicaraan semakin melebar. “ lalu apa kau sudah punya pacar?, atau calon istri?”
                “huwahaa. Untungnya sudah,” suasana lengang.
                “sayang sekali, aku punya banyak kenalan perempuan cantik dan berpendidikan”
                “terimakasih, tanpa ada yang mengenalkan sudah banyak yang antri, bahkan ambil nomer urut. Huwahaha”
                “selera humormu bagus juga anak muda. Mungkin kita bisa semakin akrab. Ayahmu dan aku sudah lama bersahabat. Semoga kerjasama baik ini akan dapat terus terjalin”.
Direktur Aji menyeruput jus untuk terakhir kalinya, merapikan baju dan jasnya. Tangan kanan memegang tas jinjing dan berdiri. Firman dan Cindy ikut berdiri.
                “terima kasih, firman” ucap Direktur Aji
                “sama-sama, tuan”
Direktur Aji beranjak meninggalkan mereka berdua. Sekarang tinggal Firman dan sekretaris pribadinya. Mereka duduk kembali.
                “kenapa wajahmu tadi memerah saat ditanya tuan Aji?” tanya Firman datar.
                “anu.. itu..” Cindy gugup giginya bergetar, keringat membasahai dahinya, membuat poninya tidak teratur. Cindy yang tampak kikuk membuat Firman tertawa keras lagi.
                “ini nih, yang membuatmu hingga sekarang belum dapat pacar. Aku heran kenapa kau selalu gemetaran ketika menyinggung tentang percintaan.  Kalau begini terus, bisa-bisa kau jadi perawan tua” sindir Firman.
Wajah Cindy pucat pasi, pasrah tidak berkata apa-apa. Cindy menelan ludah, menarik nafas perlahan. Dia bergumam pelan, tidak terdengar apa yang diucapkannya.
                “Dasar kau ini seperti kuda poni. Kau harus mencoba merubah dirimu, jadilah Pegasus yang gagah berani”. Hibur Firman. Firman memegang pundak Cindy. Angin hayalan seperti berhembus sejuk. Cindy menoleh. “Semangat!”. Wajah cindy menjadi sedikit lebih cerah.
Firman melihat dengan seksama wajah Cindy. Dia hanya gadis biasa. Firman mengingat pertama kalinya mereka bertemu. Ketika itu Firman baru saja setahun lulus dari kuliah di australia jurusan bisnis. Dia diamanahi ayahnya untuk menjadi manajer marketing.  Hal pertama yang dilakukan Firman adalah mencari seorang sekretaris pribadi. Dia membuat iklan lowongan pekerjaan dan menempelkannya di papan pengumuman perusahaan. Banyak yang mengajukan diri, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak sedikit dari perempuan-perempuan itu yang sangat  cantik dan seksi layaknya gambaran seorang sekretaris dalam film-film barat. Firman yang suka aneh-aneh tidak mencari hal yang sudah mainstream. Saat itulah dia melihat  Cindy yang pendiam, Cindy  yang pemalu. Ketika diwawancarai Firman, Cindy gugup bukan main seperti ekspresinya saat ini. Tapi itulah yang dicari Firman. Dia tidak butuh orang yang bergaya, dia butuh orang yang apa adanya, orang yang dapat dipercaya dan pastinya orang yang mau diajak melakukan hal-hal gila. Cindy terlalu lugu untuk menolak segala rencana gila Firman.
                “semangatlah, agar kita bisa mencapai tujuanku. Dengan cara yang gila, huwahaha”. Mendengar kalimat Firman, Cindy tersenyum manis. Atmosfir menjadi semakin sejuk.
Mereka berdiri karena masih ada agenda selanjutnya dan sekarang sudah  jam setengah dua.
* * * * *
Firman bediri di depan pintu masuk gedung, Cindy berdiri dibelakangnya. Langit sedang mendung sore hari ini. Bau tanah basah tersebar oleh angin dingin yang berhembus. Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan cumolonimbus yang gelap, sebentar lagi akan turun hujan.
Sebuah mobil mercy hitam datang dari gerbang. Mobil berhenti tepat di depan Firman. Adalah Pak Hadi, Sopir pribadi Firman keluar membukakan pintu mobil mempersilahkan tuannya masuk.
Tepat setelah memberikan pengarahan kepada karyawan tadi Firman mendapat telepon mendadak dari mamanya. “cepat pulang sekarang, situasi genting”.
                “kau boleh pulang. Besok jangan sampai terlambat, meskipun kau tak pernah terlambat. Dan ingat, jangan hanya jadi kuda poni, jadilah Pegasus yang gagah berani”
                “baik tuan” ucap Cindy mengangguk. Kemudian Firman masuk kedalam mobil. Pak Hadi menyetir mobil mercy hitam itu pergi. Ketika bayangan mobil tiba di luar gerbang hujan turun dari langit. Hujan yang deras. Dengan cepat tanah dan jalanan menjadi basah dan tertutup oleh genangan air.
Cindy yang masih berdiri di depan pintu utama membenarkan kacamatanya dan melihat jam tangan. Ini sudah waktunya pulang.
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar