Malam senin menyendiri dengan tugas-tugas kuliah adalah
kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Entah kenapa setiap malam yang seperti
ini aku tidak memilih untuk segra tidur. Aku malah disibukkan dengan
tugas-tugas yang menumpuk. Tugas-tugas yang seharusnya bisa aku kerjakan di
hari sabtu dan minggu. Entah kenapa, apa yang aku lakukan selama dua hari libur
itu. Waktu terasa diskip dengan tiba-tiba sudah malam senin. Aku sadar kalu
besok adalah hari senin. Hari yang padat.
Setelah tugas untuk besok aku selesaikan aku teringat dengan
kisah hidupku. Hidup yang selalu aku anggap biasa biasa saja. Duduk termenung
didepan laptop dengan ditemani secangkir kopi pahit tanpa gula, menambah
kepahitan dan hambarnya kehidupan yang aku jalani.
Belakangan ini aku mulai membaca beberapa buku filsafat yang
membingungkan. Aku tidak tahu harus mempelajarinya dari mana. Tidak jelas mana
awal dan mana akhir. Tidak jelas dari sebelah kiri atau kanan aku harus membuka
buku buku. Aku hanya terus mambaca dengan acak.
Kehidupan cintaku yang rumit menambah pahitnya kisah. Tidak
jelas sebenarnya siapa kah yang benar-benar aku sukai. Atau dengan cara
bagaimana aku bisa mencintai. Semua serba membingungkan. Namun kehausan akan
cinta tidak bisa ditahan lagi. Tapi aku belum siap.
Krisis moneter menyerangku semenjak tiga bulan lalu belum
saja usai. Failid membengkak bagai luka nanah yang terus menjalar. Entah apa
obatnya. Pikiran tidak bisa tenang akan berfikir makan apa aku besok.
Ketenangan jiwa lah yang sekarang aku butuhkan. Ketentraman hati lah yang aku
rindukan.
Kepada siapa aku harus ceritakan keluhanku ini semua. Kepada
siapakah aku luapkan isi hatiku ini. Siapa yang bisa aku percaya dan aku
pasrahkan. Siapakah yang bisa aku sandarkan kepalaku yang kian hari semakin
berat. Semakin mau lepas dari badan. Aku capek, aku ingin istirahat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar