Powered By Blogger

Kamis, 06 Oktober 2016

Project A Episode 3



BAB 3

Hujan deras terus mengguyur pelataran rumah keluarga utama Cokrolangit. Atap tanah liat basah berwarna coklat, air mengalir teratur melalui talang. Sistem rumah joglo membuat pertahanan yang baik ketika menghadapi air hujan sederas ini. Sistem penghawaan alami atap joglo rumah menjadi solusi hawa dingin, karena dapat mengalirkan udara dengan baik sehingga suhu di dalam aula utama keluarga Cokrolangit tetap hangat. Aula utama berbentuk rumah joglo adat jawa yang semuanya murni terbuat dari kayu. Tidak ada sepotong besi pun yang menancap. Pemasangan kayu menggunakan sistem sambungan dan di paku dengan patek kayu. Semuanya alami selama tujuh generasi. Hari semakin sore, mendung yang tebal menuntup matahari menggelapkan langit. Hujan ini akan bertahan  untuk beberapa jam lagi.
Rumah pertemuan utama lumayan luas. Kursi ukir kayu berjajar saling berhadapan di sisi kanan dan kiri. Ada kursi satu kursi yang berukuran lebih besar menghadap pintu masuk. Hanya terdapat kursi, tidak ada meja. Sebuah ukiran kayu Bima, tokoh pewayangan jawa terpajang di dinding belakang kursi utama. Lambang itu adalah simbol dari keluarga ini. Simbol yang melambangkan kekuatan dan kebajikan.
Para tetua keluarga telah duduk di kursi masing-masing, ditemani istri masing masing berdiri di belakang mereka. Semuanya memakai baju batik dan sewek batik khas jawa. Pakain resmi untuk pertemuan sepenting ini. Di atas kepala bertengger blankon, dan sebilah keris tersarung di pinggang. Pada kursi utama seorang laki-laki yang tampak paling tua memakai batik berwarna kuning keemasan, duduk landai. Ada tiang tabung infus berdiri disampingnya. Dia adalah Romo Agung Cokrodimuko.
                Kang Mas, Perkara ini tidak bisa kita remehkan lagi. Ini demi kelanjutan garis keturunan mbah Cokrodimuko. Sekarang sudah sampai pada turunan mbah yang ketujuh” ucap lantang Tuan Singgih, saudara kedua tuan Agung.
                injeh, betul sekali itu Kang Mas. Usia Firman kini sudah tiga puluh dua tahun. Sementara itu, belum ada kabar kalau dia akan segera menikah” sahut Tuan Suryo, saudara sepupu tuan Agung. Situasi pertemuan semakin genting. Masing-masing kepala keluarga mendesak agar tuan agung segera mengawinkan anak pertamanya, Firman. Para istri juga tampak ingin ikut besuara namun mereka hanya bisa berbisik pada suaminya karena mereka tidak punya hak bicara.
Nyonya Fatimah berdiri dengan gelisah disamping tuan Agung, suaminya. Dia selalu melihat ponsel di tangan kananya. Menanti kenapa sampai sekarang firman masih belum datang.
                “jika saja Firman memang tidak memiliki keinginan untuk menikah, maka jabatan pemangku dan presdir perusahaan kita serahkan saja kepada Wahyu adiknya” usul Tuan Rois setelah mendapatkan bisikan dari istrinya.
                “jangan terburu-buru, Dek Rois. Wahyu masih terlalu muda untuk jadi pemangku apalagi presdir. Dia baru saja lulus SD. Sangat tidak masuk akal. Kita juga belum tahu alasan Firman langsung. Kita masih harus menunggu kedatangannya” ucap tuan Kamal meredam ketegangan.
                “mau sampai kapan kita harus menunggu. Dua tahun lalu dia mengatakan akan segera menikah, tapi buktinya sampai sekarang nol” desak tuan Suryo sambil melotot ke arah tuan Kamal.
                injeh, saya juga tahu itu. Tapi kita harus mempertimbangkan perasaan Firman. Jika dia belum ingin maka kita tidak bisa memaksannya begitu saja. Ingat pesan mbah meskipun keluarga ini terkenal dan terhormat keturunannya, jangan pernah ada paksaan dalam urusan pernikahan. Bahkam dalam keluarga ini haram adanya perjodohan. Semuanya bebas”
Tuan Singgih geram. Dia berdiri dengan amarah bersungut-sungut. Kursi yang ia duduki terjatuh kesamping. “ya, memang kita tidak mengenal paksaan. Tapi ini keadaanya lebih runyam. Kang Mas Agung Sudah terlalu tua dan dia juga mulai sakit-sakitan. Kondisi tubuhnya tidak memungkinkan lagi untuk memimpin keluarga sebesar ini”.
                “uhuk-uhuk” suasana tegang terpecah oleh suara batuk tuan Agung. Ia memaksakan diri untuk berbicara “wes wes, sudah cukup. Kalian jangan bertengkar. Segala persoalan selesaikan dengan kepala dingin. Jangan sampai pertemuan ini menjadi penyebab permusuhan dalam keluarga Cokro” ucap pelan tuan Agung, ia mencoba duduk tegak. Tubuhnya tergopoh, nyonya Fatimah membantunya “jangan maksakan diri, mas”
                “Aku ra popo, dek. Biar aku selesaikan masalah ini”
               “injeh Kang Mas. Benar kata mbak Yu Fatimah. Jangan paksakan diri. Biarkan aku yang menangani” ujar Tuan kamal.
Tuan Agung tidak mendengarkan nasihat istri dan adiknya. Tetap memaksakan diri untuk berbicara meski suaranya serak.
                “aku akan berbicara dengan Firman, aku berjanji dia akan segera menikah dalam waktu dekat”
                “kapan itu Kang Mas?” sahut tuan singgih.
Hening. Tanpa ada suara apapun. Tuan Agung menelan ludah. Dia tidak mempunyai jawaban pertanyaan itu. Istrinya juga gugup menatap suaminya yang tengah kebingungan.
                “dua tahun lalu, Kang Mas Juga mengatakan persis seperti ini” tambah tuan Wahyu. Situasi semakin tidak bisa dikendalikan.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki mendekat dari luar aula. Ketukan sepatu yang senada dengan detik waktu menambah efek dramatis. Dibukalah pintu utama aula. Berdiri sesosok laki-laki. “Aku akan menikah bulan ini!, Pas dengan hari ulang tahunku, Huwahaaha”
Mendengar itu seisi ruangan melongo, pandangan mata mereka tertuju ke satu arah, Firman. Firman berjalan maju diantara para tetua keluarga. Berhenti didepan kedua orangtuanya. Tersenyum, membungkuk kemudian sungkem. Mencium tangan orangtuanya.
“Apa kau yakin anakku?” bisik Ibu Fatimah, semakin gelisah karena anaknya datang dengan membawa pernyataan berani itu.
“Ibu tidak usah cemas”
Firman bangkit, balik badan menghadap para tetua keluarga. “Nuwun sewu. Saya mohon ijin berbicara. Karena forum ini sedang membahas tentang kehidupan pribadi saya, sungguh tidak sopan. Tapi Saya berlapang dada karena ini memang demi kebaikan keluarga ini.”
Firman berpindah tepat ditengah-tengah ruangan. Para tetua menatapnya. Firman menarik nafas siap  deklamasi “Maafkan saya bila selama ini belum bisa memenuhi harapan paman-paman sekalian. Saya tahu adanya forum ini diakibatkan karena kelalaian saya. Saya sungguh egois. Namun kini saya sadar kalau kepentingan keluarga jauh lebih utama. Keluarga Cokrolangit terkenal dengan orang yang bertanggung jawab. Maka dari itu, saya akan memegang ucapan saya tadi. Tepat dua puluh hari dari sekarang saya akan menikah.”
Eksprei para tetua mulai mereda. Tuan Kamal yang sedari tadi cemas memikirkan pernyataan keponakannya kini lebih tenang karena tampaknya Firman bersungguh-sungguh. Namun, beberapa orang semakin jengkel.
                “Siapa calon istrimu?” bentak Tuan Suryo
                “minggu depan dia akan aku bawa kesini”
                “Apakah dia manusia?, atau pohon pinus yang selalu kau datangi setiap hari minggu itu?” sahut Tuan Singgih
                “apa maksudmu adek singgih, jaga ucapanmu” Tuan Kamal tidak terima. Firman tercengang. Diam tanpa kata. Badannya bergetar hebat. Keringat membasahi bulu kudunya. “Ba.. bagaimana anda bisa tahu?”
Tuan Singgih tersenyum sinis. Di wajahnya tertulis tanda kemenangan. “Tentu saja aku tahu. Pohon itu termasuk dalam wilayah proyek yang dulu pernah aku tangani. Waktu itu aku kira kau hanya jalan-jalan menikmati pemandangan, tapi aku mulai curiga ketika kau setiap minggu berbicara dengan pohon itu, padahal tidak ada seorang pun di dekatmu. Bahkan aku sempat berfikir kalau kau sudah gila.”
                “ucapanmu semakin ngawur” sela Tuan kamal yang geram.
                “Maaf jika omonganku ini tidak sopan. Tapi siapa yang tidak berfikir kalau seorang laki-laki yang berbicara dengan sebuah pohon pinus selama dua tahun adalah gila.”
Keadaan semakin gawat. Tuan Agung dan Ibu Fatimah terejut, mereka hanya termenung. Mata ibu Fatimah berkaca-kaca. Sedangkan Firman semakin goyah. Dadanya seakan tertusuk pisau tajam, sangat sakit.
Firman termenung, dia mengingat kejadian dua puluh tahun lalu, saat dia bertemu dengan gadis itu. Hari itu sangat membahagiakan baginya. Dia seakan menemukan bidadari dalam hatinya. Wajahnya gadis kecil yang cantik sederhana meluluhkan hatinya muncul kembali. Bayang-bayang ingatan mengimpuls otaknya. Suara gadis itu muncul “Pohon ini bisa berbicara denganmu. Katakanlah saja perasaanmu, pasti dia akan menjawabnya, dan jangan lupa baca mantranya”. Senyum merekah gadis dalam ingatan kembali seperti bintang jatuh. Penglihatannya menjadi kabur, tubuhnya beku seperti es, keringat dingin keluar. Tidak disangka ingatan itu akan muncul di saat seperti ini.
Ketika badan Firman mulai terhuyung tiba-tiba getaran ponsel disaku celana membuatnya sadar. Penglihatannya kembali. Bayangan-bayangan itu menghilang. Firman membuka pesan di ponselnya.
Tuan jangan lupa mandi, lalu makan malam.
Selalu jaga kesehatan. Dan besok jangan terlambat :D
Sekretaris Cindy *-*
                “Dasar kau tetap saja jadi kuda poni” gumam Firman.
Cindy memang rutin SMS ke Firman setiap sore. Tidak ada yang menyuruhnya. Awalnya Firman geli mendepatkan SMS itu, namun dia semakin terbiasa. Cindy juga pernah mengatakan kalau dia melakukannya untuk hanya untuk hiburan.
Seketika semangat Firman kembali berkobar “paman sekalian tunggu saja minggu depan. Tepat di aula ini aku akan membawanya.”
Pernyataan itu sekaligus menutup pertemuan. Semua orang beranjak pergi.
* * * * *
Pesan Terkirim. Cindy menaruh ponselnya di atas  meja.
“Hei kenapa senyum-senyum sendiri.?”
                “Eng.. enggak, siapa yang senyum!” elak Cindy setelah diserang pertanyaan mendadak.
                “Setiap kali mbak Cindy SMS jam segini pasti senyum-senyum, girang sendiri. Apa dari pacarmu si presdir gila itu?” celetuk Erna yang sedang tidur-tiduran di atas kasur.
                “Enggak Erna!. Aku cuma memperingatkan dia kalo besok jangan sampai telat. Lagian dia bukan pacarku dan dia tidak gila” sungut Cindy, wajahnya cemberut menyembunyikan rasa malunya.
                “Tuh kan, keluar sewotnya. Awas imutnya hilang. Aku tadi Cuma bercanda kok mbak”
                “Sana pergi. Bukannya kamu ada les di RT sebelah sore ini?” usir Erna sambil melemparkan bantal
Erna baru ingat kalau dia punya les matematika. Dia buru-buru mencomot tasnya dan lari keluar.
                “Payung.. payung mana kau payung” Erna kembali, rambutnya agak basah
                “Belakang pintu Erna...”
                “O iya!, aku berangkat, Assalamualaikum”
                “Waalaikumsalam.”
Namanya Erna, sepupu Cindy. Usianya dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa matematika. Dia mempunyai pekerjaan sambilan tentor les matematika anak SMP. Hari ini giliran les di RT sebelah. Cindy dan Erna tinggal sekamar di kos milik Cak Parno. Cindy Kos sudah lima tahun, tiga tahun pertama dia tinggal sendirian, lalu Erna datang. Sekamar berdua untuk menghemat biaya.
Kamar kos yang sederhana dengan luas empat kali enam meter, cukup luas untuk ditempati dua orang. Masih muat dengan beberapa perabotan seperti meja kerja, sebuah lemari besar dua pintu, penanak nasi, rak sepatu, dan kamar mandi dalam serta rak-rak buku tertempel di kanan kiri dinding untuk menghemat tempat. Sebuah komputer dan beberapa foto berada di atas meja kerja. Ada sebuah lampu baja yang setia menerangi Cindy menulis catatan harian.
[Di suatu saat hari senin]
‘Sore cantik imut dan nge-gemesin Cindy’. Setidaknya itu yang dikatakan orang sepuluh tahun yang lalu. Dan semua berubah dengan ‘hai perawan tua.’
Hari ini berjalan dengan lancar. Mulai pagi hingga sore tidak ada masalah yang serius, kecuali penyamaran gila tuan Firman. Tapi aku menikmatinya, ini menyenangkan. Aku seperti jadi spy rahasia yang sedang menjalankan misi berbahaya seperti di film-film.
Hari ini aku mendapatkan julukan baru dari tuan Firman ‘Kuda Poni’, aku tidak tahu ini sudah julukan yang keberapa setelah siput putih, keong, kura-kura dan yang lainnya lupa karena saking banyaknya. Tapi entah mengapa julukan yang satu ini tidak seperti biasanya, serasa julukan itu memberiku power.
Cindy menutup buku catatan bersampul abu-abunya. Menanggalkan kacamata diatasnya. Lalu berguling ke atas tempat tidur.
                “Sudah jam setengah enam, waktunya mandi” Cindy melihat ke arah jam dinding. Cindy bangun dari tempat tidur, lalu mandi

Jombo : Karena Prinsip Atau Nasib Atau Trauma

JOMBLO dari Lahir

Beberapa tahun ini kata itu menjadi sangat fenomenal di kalangan muda mudi. menjadi kata yang sangat dihindari, namun kebanyakan mengalami. termasuk aku.

tulisan ini sedikit curhatan pengalaman. bukan berarti aku JONES alias jomblo ngenes. tapi aku percaya dengan menulis dan mengabadikan ceritaku di sini akan lebih baik. dengan harapan suatu ketika di masa depan saat aku menjadi orang besar. ada hal-hal gokil dan absurd yang juga bisa tercantum :)

check it out.

Selama hidup 20 tahun ini ( sekarang 2016 ). aku belum pernah punya pacar. alias JOMBLO dari lahir wkwkwk..., sering teman temanku bertanya " kok bisa kau belum pernah pacaran ".
but it's real.. hahaha

bukannya aku sok alim atau sok kuat.
Setelah aku merenung dalam ke otak hati. bagaimana aku bisa kesulitan punya pacar hingga saat ini.
namun akan aku ceritakan dulu kisah jatuh cinta yang pernah aku rasakan. dan semua tidak terbalas ahahahahaha..

20 tahun ini aku terhitung tertarik dengan cewek sebanyak 4 kali. 2 diantaranya udah aku tembak dan aku di tolak, dan yang 2 aku simpan sampai lupa.


1. dimulai saat masih kelas 2 MTs. aku suka dengan teman cewek sekelasku. dia bisa dibilang yang paling cantik di kelas, dan juga orang kedua terpandai di kelas. tentu saja yg terpandai pertama adalah aku. inilah saat pertama kali aku punya RASA SUKA dengan lawan jenis. inilah saat aku sadar bahwa aku sudah bukan anak SD lagi. banyak perubahan terjadi padaku, baik penampilan dan sikap. terjadi banyak pendewasaan pada masa ini.
kamudian aku mecoba untuk mendekatinya. kala itu SMS masih merupakan media komunikasi utama dikalangan semua orang. banyak provider yang menawarkan berbagai macam servis dan bonus SMS.
dengan media itulah aku mendekatinya. dalam waktu 2 minggu aku bisa menjadi sangat dekat dengannya NAMUN hanya dalam dunia lain. Dunia SMS.
sama sekali berbeda dengan kondisi di dunia nyata. walau aku bisa ngobrol kesana kemari di dunia SMS. tapi di dunia nyata NIHIL. tak mampu aku berkata. Ngenes banget.
dan lebih parahnya lagi aku ketahuan orang tuaku kalo aku pedekate dengannya.
uniknya dia anak dari temen Bapakku. aku pun dapat marah dan wejangan yang masih terngiang hingga saat ini "Kalo masih sekolah jangan coba-coba pacaran, awas. sampai pacaran bapak belikan celurit dan karung, Cari pakan kambing saja".
dan
suatu ketika aku berhenti komunikasi karena dia mengatakan "kamu seperti kakakku," JLEBB aku terjebak dalam Family Zone. setelah itu aku pergi bagai angin, hanya memandangnya dari jauh.

2. lima bulan kemudian aku bertemu dengan gadis lain kala itu aku kelas 3 MTs. rumahnya sedesa dengan nenekku. aku mulai tertarik padanya karena aku pikir dia mirip dengan pemeran Oh Ha ni di drama korea Naughty Kiss. konyoll..!! tapi itulah yang terjadi wkwkwkw
saat pertama aku tertarik padanya dia masih punya pacar. aku pun menunggu. tak lama dia pun putus dengan pacarnya. satu minggu kemudian aku mencoba menyatakan perasaanku. dan KONYOLnya aku terjebak dalam dunia yang sama, SMS. betapa naif, polos dan BODOHnya aku. aku menembaknya lewat SMS, Fuck..!!!
aku pun ditolak dengan alasan "Aku masih sayang dengan mantanku"

[ Masa Mts ku pun berakhir tanpa Cinta ]

3. Tahun pertama di SMA aku lalui dengan biasa-biasa saja. tanpa tertarik pada siapa pun. mungkin masih efek trauma hahaha.
sampai di tahun kedua, aku menjadi ketua OSIS. aku tertarik dengan temen sekelasku sendiri. namun aku hanya bisa memendam. karena sebagian hatiku sudah usang. dilanda dilema. sampai suatu saat aku sadar kalau dia bukan cewek yang baik. dia Player, aku hanya tertipu daya hahaha

4. setahun kemudian aku di masa akhir kepengurusan OSIS aku sadar dan tertarik pada adik kelasku sendiri. padahal awalnya aku tak punya perasaan apa pun. semua itu datang ketika hari ulang tahunku tiba. 17 tahunku. orang pertama yang mengucapkan selamat adalah dia. disitulah aku mulai sadar. Dia CANTIK dia Pintar dia Rajin, dia dia dia dan dia... aku pun mulai stalking dan mencari segalanya tentangnya. konyol banget, seperti tidak ada kerjaan yang lain.
aku pun mulai menulis buku harian yang khusus menceritakan tentang aku dan dia. dan setelah aku baca lagi. ternyata aku hanya terjebak dalam imajinasi, tidak ada langkah kongkrit...wkwkwk.
aku pun memutuskan untuk bangkit. aku tak boleh lagi seperti ini. Aku tak peduli dengan wejangan orang tua, tak peduli lagi dengan trauma. BERANI

suatu malam dengan memanfaatkan jabatanku aku membuatnya berhadapan denganku. aku nyatakan perasaanku LANGSUNG. dan KONYOLnya lagi aku nembaknya dengan begini "Dek.. aku suka kamu, tapi aku gk mau pacaran, aku hanya ingin lega dari perasaan ini"
BODOH
BODOH
BODOH
BODOH
Harusnya aku lebih EGOIS dengan bilang "jadilah pacarku"

sejak saat itu aku benci dengan diriku sendiri kalau bicara soal Cinta.
aku menutup hatiku dan tak perduli lagi dengan cinta dunia nyata.
aku tenggelam dengan fantasi cinta Film-film, anime romance dan drama korea yang aku tonton.
aku haus akan cinta namun, BODOH.

sehingga aku simpulkan.

aku Jomblo karena Prinsip konyol, Nasib Sial, dan Trauma kebodohan.

kapankah aku akan Bangkit...???????????????????

Jomblo dari lahir

Hidup Bagai Kertas Putih, Kita lah yang Mewarnai

Manusia dilahirkan dengan telanjang bulat tanpa sehelai kain pun yang menyelimuti.
murni semurni kertas HVS. tanpa garis sperti kertas folio bergaris. tanpa warna seperti Bufallo.

apa yang membuat berwarna...?
yaitu ada yang mewarnai.

bisa diri sendiri
bisa orang tua
bisa teman
bisa tetangga
bisa guru
bisa agama
dan lain lain....

Benar..!!! hidup adalah pilihan. kita bebas memilih warna apa yang akan kita tempatkan dalam hidup ini.

So.. Let's Colour Our Life

Project A Episode 2



BAB 2

Matahari belum lama muncul dari ufuk timur. Langit masih terlihat remang. Jalanan kota Surabaya masih terlihat lengang dari kemacetan. Ini masih sekitar jam enam pagi. Gedung-gedung perkantoran, sekolah, toko-toko juga masih sepi. Masih terdengar suara kokokan ayam pagi hari membangunkan mahluk hidup yang masih pulas tertidur. Ayam-ayam itu seperti memperingatkan bahwa mereka akan mematuk rejeki orang-orang yang masih tertidur, sudah saatnya mereka bangun, saatnya mereka bekerja. Dari luar gedung perusahaan Cokrolangit masih terlihat sepi, hanya ada satpam yang mulai bergantian shift untuk siang hari. Beberapa karyawan satu persatu mulai bedatangan.
Masuk kedalam gedung, ruangan yang paling ramai adalah ruang OB(Office Boy). Sudah pasti mereka harus datang lebih awal untuk menyiapkan segala kebutuhan teknis perusahaan. Dan yang paling sibuk di pagi hari adalah OB bagian kebersihan. Mereka harus cepat-cepat membersihkan seluruh sudut gedung, lantai, kaca, jendela dan lain-lain.
Pukul tujuh pagi gedung mulai ramai para karyawan yang bekerja. Dua orang OB sedang membersihkan kaca jendela di ruangan Direktur Proyek. Pemilik ruangan ini adalah Direktur Hendra. Umurnya sudah setengah baya, ia sudah lama mengabdi di perusahaan Cokrolangit sejak kepemimpinan Presdir Agung dan hingga kini dilanjutkan anaknya Firman. Direktur Hendra adalah orang kepercayaan Presdir Agung sebagai tangan kanannya, sehingga dia diberi amanah untuk menjadi Direktur bagian Proyek. Tapi itu tidak senada dengan Presdir saat ini, Firman. Meskipun Direktur Hendra sangat dipercayai ayahnya, tapi Firman tidak mempercayainya sedikit pun.
Seperti biasa Direktur Hendra datang terlambat ke kantor, sudah lebih setengah jam dari jadwal kerja jam tujuh pagi. Semenjak Presdir Agung cuti sakit dan digantikan Firman sebagai Presdir sementara, dia mulai menampakkan sisi asli dirinya.
                “Dasar orang tidak berguna, jam segini masih belum datang. Mau jadi apa imej perusahaan bila manajernya pemalas begini.” Gumam seorang OB pria yang sedang mengelap kaca jendela belakang meja. OB satunya perempuan sedang mengelap meja. Ia mengelap setiap sudut meja dengan telaten. Sesekali ia mebenarkan kacamatanya yang miring. Dia hanya diam saja mendengar gumaman temannya.
Tak lama kemudaian engsel pintu ruangan berdenyit. Seseorang berjas biru gelap masuk kedalam ruangan sambil memegang handphone di tangan kirinya. Ia sedang menelpon seseorang. Lalu ia duduk, tidak memperdulikan pegawai rendahan yang ada di sekitarnya. Dia adalah Direktur Hendra, dia baru datang jam delapan pagi. OB pria tersenyum sinis melihat kedatangan manajer pemalas itu.
                “ya tuan, bisa diatur. Semua beres yang penting tuan wani piro(berani berapa)?” cakap manajer hendara di telepon sambil senyum-senyum sendiri. Ia sedang berbicara entah dengan siapa.
                “dengan siapa dia bicara, apa yang sedang dia bahas?” gumam pelan OB pria. Dia mencoba mendekat menguping apa yang Direktur Hendra bicarakan Seperti seorang mata-mata yang sedang menggali informasi dari musuh Tapi sebelum terdengar apapun.
                 “hei kau, lap sepatuku ini” perintah Direktur Hendra kepada OB pria itu, “baik pak” sahut OB pria meraih sepatu atasannya. “hati-hati ini sepatu mahal, jika lecet gajimu seumur hidup tidak akan bisa menggantinya” sombong Direktur Hendra.
                “dan kau” tunjuk ke arah OB perempuan yang sedang menyapu lantai. “ambilkan aku minum” perintah Direktur Hendra.
                “baik pak. Bapak mau minum apa?, jus, teh, atau kopi?” tanya OB itu. “kopi pahit”. Langsung OB perempuan itu keluar ruangan menjalankan titah mengambil kopi.
                “dasar tua bangka, jam segini minum kopi untuk menutupi wajahmu yang ngantuk malas” gumam pelan OB  pria, ia masih mengelap sepatu atasannya. Direktur Hendra tidak mendengarkan gumaman itu, ia sibuk bicara di telpon. Sambil mengelap perlahan OB pria itu mendengarkan percakapan atasannya.
                “tenang saja, jika aku berhasil proyek Resort Internasional BimoSeno akan menjadi milikmu. Aku hanya tinggal menipu Presdir anak ingusan itu.” Ucapnya dengan wajah nyengir. Mendengar hal itu OB pria terperanjat menjatuhkan kaki Direktur Hendra. “ maaf tuan”. Kemudian OB perempuan masuk dengan mambawa segelas kopi berwarna hitam pekat diatas nampan. Ia menyuguhkannya ke Direktur Hendra. Kemudian diminumnya kopi itu dengan sedikit mengecap bibir. Kedua OB  itu bersama-sama keluar ruangan meninggalkan menajer Hendra. Pekerjaan mereka telah selesai.
                “Tuan, sampai kapan anda akan melakukan hal ini? Ini sudah keempat kalinya dalam dua minggu ini” tanya OB perempuan. Mereka sekarang sedang berdiri di sebuah sudut gedung tidak jauh dengan ruangan Direktur Hendra. OB pria itu mulai melepas topinya, mencopot kumis dibawah hidungnya yang ternyata palsu. OB disampingnya juga ikut melepaskan ikatan rambutnya, rambutnya terjurai lurus sepinggang, lalu ia memakai sebuah kaca mata. Dan sekarang mereka telah berubah penampilan seratus delapan puluh derajat. Tidak lagi memakai pakaian lusuh pegawai rendahan. memaikai kemeja, jas hitam dan celana, sangat rapi, yang perempuan memakai rok yang panjangnya satu jengkal dari mata kaki dengan memakai jas berwarna abu abu. Rambutnya diikat lagi satu lagi dibagia belakang, ada poni di dahinya sambil memakai kacamata bulat kecil membuatnya tampak seperti seorang karyawan lugu dan penurut.
                “bukankah sudah sering kali aku katakan kepadamu Cindy, aku melakukan penyamaran ini agar tahu seberapa kotornya orang-orang berwajah manis itu” ketus pria itu.
                “ya tuan Presdir Firman, maafkan saya. Tapi apa tidak masalah?” cemas perempuan itu
                “huwahaha. kau tenang saja Cindy, ikuti saja semua perintahku sebagai tugas seorang sekretaris pribadi. Hal seperti ini juga harus kau lakukan, meskipun ini sedikt gila. Tapi semua ini aku lakukan demi kebaikan perusahaan ini. Aku tidak ingin perusahaan yang dibangun ayahku ini hancur oleh tangan-tangan kotor mereka,” ujar Firman dengan ekspresi seorang proklamator.
Itulah kelakuan aneh Firman, Presdir perusahaan Cokrolangit dengan Cindy, sekretaris pribadinya. Semenjak Firman diangkat menjadi Presdir sementara tiga bulan yang lalu, dia melakukan banyak perombakan besar di perusahaannya. Banyak pegawai yang mendadak dipecat, juga ada yang dipromosikan, tanpa ada sebab yang jelas tapi ada bukti kuat. Firman dan sekretaris Cindy melakukan penyamaran menjadi OB untuk memata-matai pegawainya yang nakal. Mereka sudah mekakukannya sejak dua bulan yang lalu.
Mereka berdua berjalan, Firman didepan dan sekretaris Cindy menempel dibelakangnya sambil membopong sebuah Tablet di tangan kirinya. Berjalan beriringan selayaknya tuan dan abdinya. Mereka memasuki sebuah ruangan megah. Itu adalah ruangan pemimpin tertinggi perusahan, ruangan Presdir.  Firman duduk di kursi besarnya, ada sebuah bunga diatas meja. Sekreteris Cindy berdiri disampingnya. Dia menggeser-geser layar tablet melihat beberapa jadwal.
                “apa jadwal hari ini?” tanya Firman
                “pukul sembilan rapat dewan direksi di ruang rapat utama lantai dua puluh dengan agenda evaluasi tiga bulanan, pukul dua belas makan siang dengan direktur Aji dari perusahaan baja ringan dan terakhir pukul empat belas  memberikan pengarahan kepada karyawan magang di ruang serbaguna lantai lima” jelas sekretaris Cindy denga lugas dan rinci. “masih ada senggang lima belas menit menuju agenda pertama”. Firman manyilangkan kakinya lalu melihat Cindy “padat juga jadwalku hari ini. Baiklah lakukan seperti biasanya” perintah firman, dia menepuk tangan tiga kali. Dalam sekejap keluar dua orang pelayan. Satu orang membawa baskom kecil dan handuk, sedangkan satunya membawa sisir rambut dan cermin. Mereka mendekat dan berhenti tepat di depan meja memandang atasannya dengan senyuman.
Sekretaris Cindy mengacungkan satu jari. Pelayang pembawa baskom dan handuk maju kedepan berdiri disamping Cindy. Cindy mengangkat handuk, mencelupkannya ke air baskom, kemudian mengelap wajah tuannya. Selesai berganti pelayan satunya yang maju kedepan.  Cindy mengambil Sisir rambut dan memberikannya ke Firman. Firman menyisir rambutnya yang mengkilat sedangkan Cindy memegang cermin mengikuti gerakan tangan tuannya. Ini salah satu kelakuan mereka yang aneh. Bila dilihat  orang lain mereka akan salah paham, ini sama sekali bukan tingkah antara Presdir dan Sekretarisnya melainkan tingkah antara tuan dan budaknya. Tapi itu tidak akan terjadi. Karena pintu ruangan akan dikunci selama ritual ini berlangsung. Selesai, Firman menepuk tiga kali dan kedua pelayan itu pergi.
Firman Cokro hermansyah adalah nama lengkapnya. Ia berusia tiga puluh dua tahun, anak pertama dari Agung Cokro, Presdir Cokrolangit. Sebelum diangkat menjadi Presdir sementara dia menjabat sebagai manajer marketing. Dia sudah bekerja di peusahaan ayahnya sejak umur dua puluh tiga  tahun selepas kuliah. Memiliki  tabiat yang eksentrik membuatnya sering melakukan terobosan yang cenderung aneh. Meskipun aneh tapi selalu kreatif menggaet pasar menjadikan perusahaannya semakin besar, saham perusahaan tinggi, dan investasi lancar. Kemampuannya membuatnya disegani oleh dewan direksi perusahaan.
                “kita berangkat sekarang!” ucap Firman berdiri lalu berjalan diikuti Cindy di belakangnya.
* * * * *
Para petinggi perusahaan sudah duduk di kursi masing masing. Ruang rapat utama mempunyai meja melingkar layaknya meja rapat pada umumnya. Terdapat satu kursi besar yang hanya boleh ditempati seorang Presdir dan dibelakangnya tertempel ukiran logo perusahaan. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, masuklah Presdir perusahaan, Firman dan sekertarisnya Cindy.
Rapat dimulai dengan pembahasan ringan, pemasukan dan pengeluaran, pemasaran, iklan dan lain-lain. Rapat di pimpin langsuung oleh Presdir. Firman sudah terbiasa memimpin rapat karena sebelum diangkat menjadi presdir dia sudah beberapa kali memimpin rapat ketika ayahnya berhalangan. Para dewan mengikuti dengan seksama, sesekali ada pertanyaan yang diajukan dan dijawab dengan baik.
Cindy hanya berdiri diam disamping atasannya. Dia tidak punya hak bicara dalam forum ini. Ketika ada sesuatu yang dianggap penting dia segera mencatatnya. Hingga inti rapat selesai dan kini tiba pada evaluasi secara personal.
                “mari kita lihat layar ini” ucap lantang Firman.
Pada layar LCD terpempang sederetan nama dan angka. Ada nama yang diblok warna hijau, ada beberapa yang berwarna kuning dan ada dua nama yang berwarna merah. Warna-warna itu punya maksud. Para dewan menatap layar itu dengan seksama. Beberapa tersenyum melihat, namun lebih banyak yang tertunduk. Mereka tahu maksud warna-warna itu.
                “ini adalah rekapitulasi kedisilinan para dewan, mulai dari ketepatan masuk kerja, ketidakhadiran, cuti, hingga evaluasi pegawai” firman berdiri sambil menunjuk layar LCD. Suaranya yang keras membuat suasana tegang menyeruak ke seluruh isi ruangan. Beberapa dewan tampak resah, ekspresi Direktur Hendra geram melihat namanya diblok merah. wajah Firman berubah memerah, tatapannya tajam meyelidik ke seluruh wajah di depannya. “perusahaan ini sudah terkenal dimana-mana baik skala nasional maupun internasional mengenai keprofesioanalannya dalam berbisnis, mitra yang dapat dipercaya dan selalu memberikan hasil yang memuaskan untuk setiap klien bisnisnya. Semua itu dibangun dengan mengorbankan masa muda ayahku, kedisiplinan yang selalu dijunjung tinggi dan tidak meninggalkan moral dalam berbisnis. Tapi apa yang kita lihat sekarang sungguh memalukan. Anda semuanya adalah petinggi perusahaan, seharusnya memberikan contoh yang baik, tidak seenaknya sendiri.” Suasana semakin tegang, tidak ada suara apapun kecuali suara kemarahan Firman. Cindy hanya terpaku disampingnya, dia juga merasakan aura yang tidak mengenakkan itu. Beberapa dewan yang tadi sempat tersenyum sekarang ikut tegang. Kemudia Firman duduk, amarahnya sedikit turun.
                “Tolong maafkan kami” ucap direktur kamal
                “iya, maafkan kami. Itu adalah kelalaian kami” tambah Direktur Hendra, ia melirik ke sampingnya memberikan isyarat. Serempak semua dewan membungkuk “tolong maafkan kami”. Forum kini dipenuhi dengan bisik-bisik kecil. Para dewan saling toleh.
                “selain masalah kedisiplinan, satu lagi yang perlu dibahas” ujar Firman kini emosinya sudah terkendali. Para dewan kembali menatap layar LCD.
                “Apakah itu keponakanku? Bukankah semua tentang perusahaan sudah kita bahas?” tanya Direktur kamal sebagai pamannya.
                “hadirin dewan sekalian. Perusahaan ini sudah berdiri sejak empat puluh tahun lalu. Ayahku sendiri yang mendirikan perusahaan ini ketika usianya tiga puluh tahun. Dulu perusahaan Cokrolangit ini hanyalah sebuah toko bangunan kecil di pinggiran kota. Saya yakin anda semua pasti sudah mengetahui tentang itu. Dengan perjuangan keras sehingga kini perusahaan ini telah menjadi perusahaan besar yang disegani. Setiap harinya perusahaan ini beroperasi dengan uang milyaran rupiah, jumlah yang tidak kecil. Gaji karyawan perusahaan juga tinggi, bahkan anda semua yang sedang duduk disini memiliki kehidupan yang makmur terjamin. Ayahku menaruh amanah besar diatas pundak anda semua.
                “saya selaku presdir juga mengharapkan kontribusi yang maksimal dari anda semua. Saya ingin kita semua berjuang bersama-sama untuk membangun perusahaan ini, membesarkan Cokrolangit, menjadikannya perusahaan yang disegani di segala tingkat mulai kancah nasional hingga internasional. Itu harapan besar saya dan juga ayah saya. Untuk itu saya tidak menginginkan adanya sarang tikus di perusahaan ini” Firman berhenti sejenak. para dewan mulai berbisik lagi “ apa maksudnya sarang tikus?”.
Firman berdiri, dia berjalan mengitari meja. Berjalan perlahan dibelakang kursi para dewan. “saya tidak ingin perusahaan ini hancur oleh tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak perduli siapa pun, bila dia terbukti melakukan kejahatan maka aku selaku presdir akan bertindak tegas”. Firman sampai di kursinya kembali
                “apakah ada yang salah?, Presdir Firman” tanya Direktur Hendra
                “huwahaa” Firman tertawa keras. Semua orang tidak memperhatikan tawa itu, karena itu sudah kebiasaannya sejak kecil.
                “begini tuan hendra” ucap firman. Lalu dia bertepuk sekali. Cindy mengerti arti tepuk itu. Dia menampilkan sebuah diagram pada layar. “seperti yang anda semua lihat di layar ini. Yang berwarna biru adalah diagram keuangan yang sudah dilaporkan oleh bagian keuangan tadi. Lalu ada diagram warna biru adalah dana siluman. Ada beberapa ketimpangan. Benar dalam slide semuanya dilaporkan dengan baik. Namun saya berhasil mendapatkan data yang menunjukkan ketidakabsahan laporan tersebut. Data ini relevan. Oleh karena itu, saya tadi mengatakan kalau perusahaan ini menjadi sarang tikus”. Suasana forum semakin menjadi kacau. Terdengar suara bergemuruh dari para dewan direksi.
                “ada beberapa nama yang sudah saya pegang. Saya akan lebih waspada. Itu saja rapat untuk hari ini. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf bila ada hal yang kurang mengenakkan” ucap Firmann menutup rapat evaluasi pagi ini. Seluruh dewan direksi beranjak pergi meninggalkan ruangan rapat. Masih terlihat  mereka saling berbisik. Di dekat pintu Direktur Hendra melirik Firman, berbisik dengan beberapa dewan lalu pergi. Direktur kamal masih duduk di tempatnya.
                “aku bangga dengan sifatmu yang tegas. Namun justru karena itu aku sebagai adik dari ayahmu sangat mencemaskanmu dengan sikapmnu tadi. Kamu akan menghadapi kesulitan” ucap Direktur Kamal. Dia memandang wajah keponakannya, seakan dia melihat kakaknya dalam diri Firman.
Paman Kamal diblok warna hijau. Itu sudah pasti karena pamannya ini ikut berjuang bersama ayanhya membangun perusahaan ini. Kedisiplinannya tidak diragukan lagi. Dia satu-satunya dewan yang dipercaya Firman sehingga tidak perlu penyamaran untuknya
                “paman tenang saja, jangan khawatir denganku. Aku pasti bisa mengatasinya. Karena aku adalah keturunan ketujuh keluarga ningrat cokrodimuko. Aku baik hati dan tidak sombong, huwahaha ha” mereka semua tertawa, Firman, Cindy dan tuan Kamal.
* * * * *
Pukul satu siang Firman dan Sekretaris Cindy sedang duduk berdampingan di sebuah meja restoran. Direktur Aji dari perusahaan baja ringan duduk di depan mereka, mereka mengobrol dengan santai. Wajah Direktur Aji yang Friendly membuat suasana pertemuan bisnis lebih rileks. Mereka berbicara sambil menyantap hidangan diatas meja.
Restoran ini tidak terlalu jauh dari gedung. Restoran mewah yang sedang ramai orang makan siang. Kebanyakan para karyawan perusahaan disekitar kompeks bisnis Surabaya makan siang di restoran ini. Pertemuan dilakukan di bagian yang lebih mewah. Meja kayu mengkilap dan kursi kayu ukir yang penuh estetika menjadi tempat pertemuan. Berbagai hidangan mewah sudah tersaji diatas meja.
                “sudah sepuluh tahun kami bekerjasama dengan perusahaanmu. Sejak ayahmu yang memimpin. Kami tidak pernah sekalipun mendapatkan kekecewaan dari perusahaanmu. Semoga itu bisa menurun padamu anak muda” ujar pria setengah baya berjas coklat, direktur Aji. Mendengar itu Firman langsung tertawa keras. Cindy hanya tersenyum, sesekali dia membenarkan poni dan kacamatanya.
                “ngomong-ngomong sejak tadi aku belum kamu kenalkan dengan pacarmu ini” celetuk Direktur Aji. Mendengar itu Cindy gemetar tersipu malu. Dia jadi salah tingkah. Dia menggosok poninya. Firman tanpa ekspresi.
                “huawahaha. Candaan tuan lucu sekali. maaf saya lupa belum mengenalkannya kepada anda. Dia sekretarisku namanya Cindy.” Terang Firman. Suasana mereda.
                “sayang sekali. andai aku masih muda aku mungkin akan menjadikanmu pacarku. Berapa umurmu nona?”
                “du.. dua puluh sembilan, tuan” jawab cindy. Direktur Aji mengangkat pundak terkejut. “umurmu dua puluh sembilan?, bagaimana bisa. Wajahmu masih tampak seperti gadis umur sembilan belas tahun. Mungkin ini yang disebut baby-face”. Direktur Firman minum jus di depannya.
                “dia sudah menjadi sekeretarisku sejak aku mejabat manajer pemasaran. Sudah enam tahun yang lalu. Pekerjaannya bagus, sangat disiplin. Itulah yang membuatku mempertahankannya” terang Firman
Topik pembicaraan semakin melebar. “ lalu apa kau sudah punya pacar?, atau calon istri?”
                “huwahaa. Untungnya sudah,” suasana lengang.
                “sayang sekali, aku punya banyak kenalan perempuan cantik dan berpendidikan”
                “terimakasih, tanpa ada yang mengenalkan sudah banyak yang antri, bahkan ambil nomer urut. Huwahaha”
                “selera humormu bagus juga anak muda. Mungkin kita bisa semakin akrab. Ayahmu dan aku sudah lama bersahabat. Semoga kerjasama baik ini akan dapat terus terjalin”.
Direktur Aji menyeruput jus untuk terakhir kalinya, merapikan baju dan jasnya. Tangan kanan memegang tas jinjing dan berdiri. Firman dan Cindy ikut berdiri.
                “terima kasih, firman” ucap Direktur Aji
                “sama-sama, tuan”
Direktur Aji beranjak meninggalkan mereka berdua. Sekarang tinggal Firman dan sekretaris pribadinya. Mereka duduk kembali.
                “kenapa wajahmu tadi memerah saat ditanya tuan Aji?” tanya Firman datar.
                “anu.. itu..” Cindy gugup giginya bergetar, keringat membasahai dahinya, membuat poninya tidak teratur. Cindy yang tampak kikuk membuat Firman tertawa keras lagi.
                “ini nih, yang membuatmu hingga sekarang belum dapat pacar. Aku heran kenapa kau selalu gemetaran ketika menyinggung tentang percintaan.  Kalau begini terus, bisa-bisa kau jadi perawan tua” sindir Firman.
Wajah Cindy pucat pasi, pasrah tidak berkata apa-apa. Cindy menelan ludah, menarik nafas perlahan. Dia bergumam pelan, tidak terdengar apa yang diucapkannya.
                “Dasar kau ini seperti kuda poni. Kau harus mencoba merubah dirimu, jadilah Pegasus yang gagah berani”. Hibur Firman. Firman memegang pundak Cindy. Angin hayalan seperti berhembus sejuk. Cindy menoleh. “Semangat!”. Wajah cindy menjadi sedikit lebih cerah.
Firman melihat dengan seksama wajah Cindy. Dia hanya gadis biasa. Firman mengingat pertama kalinya mereka bertemu. Ketika itu Firman baru saja setahun lulus dari kuliah di australia jurusan bisnis. Dia diamanahi ayahnya untuk menjadi manajer marketing.  Hal pertama yang dilakukan Firman adalah mencari seorang sekretaris pribadi. Dia membuat iklan lowongan pekerjaan dan menempelkannya di papan pengumuman perusahaan. Banyak yang mengajukan diri, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak sedikit dari perempuan-perempuan itu yang sangat  cantik dan seksi layaknya gambaran seorang sekretaris dalam film-film barat. Firman yang suka aneh-aneh tidak mencari hal yang sudah mainstream. Saat itulah dia melihat  Cindy yang pendiam, Cindy  yang pemalu. Ketika diwawancarai Firman, Cindy gugup bukan main seperti ekspresinya saat ini. Tapi itulah yang dicari Firman. Dia tidak butuh orang yang bergaya, dia butuh orang yang apa adanya, orang yang dapat dipercaya dan pastinya orang yang mau diajak melakukan hal-hal gila. Cindy terlalu lugu untuk menolak segala rencana gila Firman.
                “semangatlah, agar kita bisa mencapai tujuanku. Dengan cara yang gila, huwahaha”. Mendengar kalimat Firman, Cindy tersenyum manis. Atmosfir menjadi semakin sejuk.
Mereka berdiri karena masih ada agenda selanjutnya dan sekarang sudah  jam setengah dua.
* * * * *
Firman bediri di depan pintu masuk gedung, Cindy berdiri dibelakangnya. Langit sedang mendung sore hari ini. Bau tanah basah tersebar oleh angin dingin yang berhembus. Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan cumolonimbus yang gelap, sebentar lagi akan turun hujan.
Sebuah mobil mercy hitam datang dari gerbang. Mobil berhenti tepat di depan Firman. Adalah Pak Hadi, Sopir pribadi Firman keluar membukakan pintu mobil mempersilahkan tuannya masuk.
Tepat setelah memberikan pengarahan kepada karyawan tadi Firman mendapat telepon mendadak dari mamanya. “cepat pulang sekarang, situasi genting”.
                “kau boleh pulang. Besok jangan sampai terlambat, meskipun kau tak pernah terlambat. Dan ingat, jangan hanya jadi kuda poni, jadilah Pegasus yang gagah berani”
                “baik tuan” ucap Cindy mengangguk. Kemudian Firman masuk kedalam mobil. Pak Hadi menyetir mobil mercy hitam itu pergi. Ketika bayangan mobil tiba di luar gerbang hujan turun dari langit. Hujan yang deras. Dengan cepat tanah dan jalanan menjadi basah dan tertutup oleh genangan air.
Cindy yang masih berdiri di depan pintu utama membenarkan kacamatanya dan melihat jam tangan. Ini sudah waktunya pulang.