Powered By Blogger

Sabtu, 25 Maret 2017

Dari pada bercuit di medsos

fenomena saat ini yang terjadi pada khalayak muda adalah banyaknya cuit-cuit curhat di media sosial. entah apa niatnya tapi fenomena ini tak terbendung. bahkan seperti sudah menjadi trend. mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang paling absurd. yang menurut etika itu tidak pantas diumbar.

pemuda memang merupakan fase naik turunnya emosi dengan cepat. fase dimana pemuda sedang dalam puncak pencarian jatidiri mereka. fase dimana kondisi paling rawan pun bisa terjadi. hal seperti itu apabila tidak di atur dengan baik bisa menjadi masalah langsung maupun tidak langsung.

sebagai pemuda yang bijak apabila terjadi goncangan emosi alangkah lebih baik untuk tidak mencurahkannya di media-media sosial, yang mana disitu pembacanya tidak satu atau dua orang, melainkan semua orang bisa dengan mudah melihatnya. tidak dipungkiri hal itu bisa saja menimbulkan keburukan bagi diri sendiri dan juga orang lain entah itu disadari maupun tidak disadari.

Solusi yang mungkin dapat dilakukan adalah curahkan isi emosi yang tengah meledak pada orang yang kamu percayai seperti ibu, ayah, adik, kakak, sahabat dan lain lain yang sekiranya kamu dapat merasa aman dan nyaman. apabila tidak ada kamu bisa mencurahkannya dengan buku harian. memang terdengar kuno tapi itu jauh lebih aman dan seuatu saat nanti dapat kamu baca lagi. dijamin kalau kamu bakal tertawa mengingatnya. solusi lain mungkin bisa dengan membuat sebuah blog pribadi, yang bisa kamu akses kapan saja dan dimana saja. juga tidak ada ketakutan terbaca orang selagi linknya tidak disebar. dan databasenya akan selalu ada selagi internet di dunia masih ada.

so you can choose what the choice tha you like. that's all from me.
thank you

Selasa, 21 Maret 2017

Aku IRI

Aku IRI.

Aku iri dengan mereka. aku iri denga mereka. aku iri dengan mereka.
ak

A Miracle

Ya. Judul kali ini adalah tentang kajaiban. Kenapa keajaiban? Karena hari ini ada sebuah keajaiban.
Cerittanya bermula saat aku bangun tidur. Hari ini adalah ari yang lumayan berat. Berat dalam artian mental ruhani. Sumpek dan bingung. Itu yang terasa. Serasa dunia sudah menyempit. Banyak masalah yang menyatu. Apa sebabnya?

Sebenarnya aku tahu apa yang menjadi penyebab. Tapi selama ini aku mengesampingkan itu. Aku mengabaikan itu. Padahal itu adalah hal prnting. Ini harus jadi titik balik.

Kesumpekan tiba pada puncaknya tepat jam dua siang. Aku merasa jatuh dan lemah. Namun di dalam kamar aku melihat sebuah majalah yang baru aku beli. Itu adalah majalah Mafahim. Majalah buatan para alumnus Abuya Assayyid muhammad bin alwy almaliki.

Artikel yang paling berkesan adalah tentang cara menghadapi krisisi keuangan. Artikel itu menceritakan tentang nabi Musa AS yang tengah tertimpa kerumitan. Namun beliau berdoa kepada Allah SWT, maka rejeki pun datang.

Pada tengah tengah membaca majalah aku mendengar suara adzan. Saat itu juga aku berangkat sholat berjamaah ke musholla. Rasanya seperti nostalgia. Sudah lama sekali aku tidak cepat tanggap mendengar adzan langsung mencari jamaah. Sudah 2 tahun yang lalu.

Wallahu a’lam ternyata setelah sholat ashar aku mendapat kabar kalau Beasiswaku cair. Langsung seperti kilat sebagian besar bebanku terangkat.

Aku merasa hina. Karena bergantung pada uang dunia. Padahal aku sudah tahu kalau dengan pasrah pada Allah SWT semua urusan jadi lancar. Aku harus mulai memperbaiki diri mulai dari sekarang. Aku harus istiqomah.


SEMANGAT

Senin, 20 Maret 2017

20 Maret 2017 in Crisis Hati

Malam ini kenapa aku membuka lagi lembaran blog lama. mallam ini kenapa jari-jariku mangetik di atas keyboard. Padahal sudah lama aku tidak membukanya, bahkan mengepost sesuatu ynag berguna. Benar memang kalau ini hanya sekedar blog buku catatan hati yang sedang gundah gulana karena kehidupan yang terasa kurang adil.  Lebih khusus karena patah hati hahahahah
Semua ini bermula pada malam ini 20 maret 2017. Aku pikir hari ini akan menjadi hari yang seperti kemarin. Tpi ternyata tidak, setelah malam hari semuanya berubah menjadi suasana hati yang mencekam dan aku ingin rasanya meledak. Ingin melompat dari gedung pencakar langit. Aku ingin terbang tingi ke langun dan kemudian jatuh bebas mengikuti hukum gravitasu jatuh ke pusat bumi.
Aku ingin marah pada seseorang, aku ingin memukul seseorang. Tapi aku tidak bisa. Bahkan aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Aku hanya ingin marah dan meledakkan emosiku. Tapi kepada siapa?. Kenapa aku marah? Apa hakku untuk marah? Memangnya siapa aku?.
Lagi dan lagi aku menjalani kisah romance yang pelik. Balum pernah ada plot bahagia yang aku jalani. Semua patah di tengah jalan. Tidak ada harapan. Dan mati.
Tidak ada yang bisa aku sampaikan dengan suara. Tidak ada yang bisa menjadi pendengar setiap keluh kesahku. Aku terlalu skeptis. Aku tidak mempercayai seseoranngpun. Aku kesepian dalam kesendirian maski dalam keramaian.
Apakah memang seperti ini jalan hidup percintaanku?. Aku bahkan belum pernah pacaran. Padahal sudah 20 tahun aku dilahirkan di dunia ini. Aku berffikir bahwa masa mudaku telah terbuang dengan sia-sia.  Aku ditengah masa-masa kegalauan terhebat dalam hidup. Dimana supply and demand hidupku tidak seimbang. Begitu pula dalam soal hati.
Apakah ini memang salahku? Apa aku ini bodoh? Apa yang aku pelajari 20 tahun ini?. Bukankah aku sudah pernah jalani cinta yaang takterbalaskan bertahun-tahun?. Tapi kenapa itu erulang lagi pada kehidupan ini?. Bertanya dan bertanya saja yang aku lakukan. Tapi aku tidak tahu kepada siapakah pertanyaan ini aku harus sampaikan. Apakah kepada Tuhan? Sang pembuat takdir? Apakah ini jalan cerita terbaik untuk kehidupanku?.